WARGA GAZA RAYAKAN IDUL FITRI DENGAN KEPILUAN

SIARINDOMEDIA.COM – Warga Gaza mengakhiri Ramadhan sekaligus merayakan Idul Fitri tahun ini dengan berbagai kisah pilu dan menyedihkan. Di tengah perayaan hari raya tersebut pada Rabu (10/4/2024), mereka kembali harus menerima serangan membabi buta Israel.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, serangan yang menyasar rumah warga tersebut menewaskan 14 orang, termasuk anak-anak.

Seorang warga mengeluhkan pemboman tanpa henti yang dilakukan Israel, bahkan di saat mereka hendak melakukan Salat Ied, “menghalangi warga Palestina untuk salat di dalam masjid mereka”. Mereka akhirnya hanya bisa Salat Ied di luar Masjid Al- Farooq yang telah rata dengan tanah.

Dilansir AFP, Ahmed Qishta (33), mengatakan momen Idul Fitri seharusnya menjadi momen penuh keceriaan dan kebahagiaan.

“Kami menyiapkan makanan dan biskuit dari bantuan PBB yang kami berikan untuk anak-anak. Kami berusaha gembira, tetapi sulit,” ujarnya.

Qishta menambahkan, sebelum melaksanakan Salat Ied di Masjid Ibnu Taymiyyah, dia dan keluarganya terlebih dahulu berdoa di makam kerabat yang terbunuh dalam agresi Israel.

“Belum pernah terjadi Idul Fitri seperti ini, yang penuh dengan kepiluan, ketakutan, kehancuran akibat perang,” tuturnya.

Warga Palestina berdoa di makam kerabat
LAHUMUL FATIHAH. Warga Palestina di hari pertama Idul Fitri berdoa di makam sanak kerabat yang terbunuh dalam konflik Israel-Hamas. Foto: Reuters

Sementara itu, Abir Sakik (40), yang meninggalkan rumahnya di Kota Gaza dan sekarang tinggal di tenda pengungsian di Rafah, mengisahkan kesedihan yang sama. Dia tak punya bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue dan manisan yang biasa disiapkannya menyambut Idul Fitri.

Untuk menyiasatinya, perempuan yang kehilangan banyak anggota keluarganya ini terpaksa membuat sajian khas Idul Fitri dari kurma yang dihancurkan.

“Kami ingin tetap bersuka cita meski dibayangi darah yang tertumpah, kematian dan pemboman di mana-mana,” tegasnya.

Sakik mengecam tindakan militer Israel yang terus melakukan pembantaian dan membunuh perempuan dan anak-anak, bahkan di perayaan hari raya keagamaan seperti saat ini.

“Kami sudah lelah dan letih. Sudah cukup, sudah cukup perang dan kehancuran ini,” ujarnya.

Yang dia pikirkan adalah memberi kegembiraan kepada anak-anak. Dia rindu suasana Idul Fitri seperti sebelumnya, dimana banyak kue, coklat dan mainan untuk anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *