SIARINDOMEDIA.COM – Ucapan kontroversial Nadirsyah Hosen, atau Gus Nadir, di media sosial memicu perdebatan terkait kepemimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Nadir, seorang akademisi yang juga Rais Syuriah NU Australia dan Selandia Baru, menyebut bahwa pemimpin tertinggi NU bukanlah Rais Aam, melainkan para Kiai Langitan.
Dalam responsnya, Ketua PBNU Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi, menegaskan bahwa Rais Aam adalah pemimpin tertinggi NU, di atas semua kiai.
Gus Fahrur menjelaskan bahwa Rais Aam merupakan pemimpin tradisional NU, sedangkan Ketum Tanfidziyah berperan sebagai pelaksana.
Gus Fahrur menekankan pentingnya ketaatan terhadap Rais Aam, sesuai dengan Anggaran Dasar NU.
Menurutnya, warga NU, termasuk Ketum PBNU dan tanfidziyah, wajib taat kepada Rais Aam sebagai pemimpin Syuriyah tertinggi NU.
Mengakhiri pernyataannya, Gus Fahrur menyatakan keyakinannya bahwa kaum Nahdliyin patuh terhadap Rais Aam, termasuk dalam konteks pemilihan umum, menunjukkan kesiapan mereka mengikuti arahan dan saran pemimpin.
Sebagai informasi tambahan, jabatan Rais Aam, sebagai posisi tertinggi dalam kepengurusan NU, saat ini dipegang oleh K.H. Miftachul Akhyar, yang menjabat untuk masa khidmat 2022-2027, menggantikan posisi yang pernah diemban oleh pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, dengan gelar Rais Akbar. Setelah itu, jabatan tersebut dikenal sebagai Rais Aam.














