GENJOT PEMULIHAN EKONOMI DEMI MENGHADAPI PERLAMBATAN PERTUMBUHAN EKONOMI 2024

BY: LILI NALURIA

SIARINDOMEDIA.COM – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2023 tumbuh 4,94%, jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya sebesar 5,17% tentunya pertumbuhan ini mengalami penurunan. Dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sedikit melambat di kisaran 4,9% – 5% pada 2024.

Penyebab dari penurunan ini adalah konsumsi rumah tangga yang melemah dan rendahnya capaian ekspor impor Indonesia akibat geopolitik global. Pada saat ini, di tengah kinerja pertumbuhan ekonomi global yang melambat, menyebabkan tumpuan pertumbuhanan pada konsumsi rumah tangga.

Sejauh ini, kinerja konsumsi masih relatif kuat sesuai dengan sejumlah indikator seperti Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) di atas 100 (optimis) dan Indeks Penjualan Ritel (IPR) yang tumbuh positif. Untuk itulah, daya beli masyarakat harus terus distimulasi agar kinerja konsumsi sebagai tumpuan pertumbuhan ekonomi bisa lebih maksimal dan tidak merosot.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023
MENGALAMI PERLAMBATAN. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia. Foto: Ist

Situasi ini menyebabkan Bank Indonesia (BI) akan memilih mempertahankan suku bunga kebijakan (BI-7DRR) di level 5,75% dan tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga. Kebijakan untuk mempertahankan suku bunga sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menjangkar inflasi agar berada dalam lintasan yang diharapkan.

Selain itu, alokasi perlindungan sosial diperbesar dan distribusinya dipercepat untuk menyanggah daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Tentu saja, kebijakan pengendalian inflasi harus terus diperkuat. Meski dalam lima bulan terakhir, tren inflasi terus menurun imbas penurunan harga komoditas global dan kebijakan moneter ketat dari Bank Indonesia. Tetapi harga sejumlah komoditas bahan pangan, seperti beras, daging ayam, telur, dan gula masih cenderung naik.

Harga bahan pangan harus terus didorong turun dan distabilkan. Bagaimanapun, sebagian besar pendapatan masyarakat dialokasikan untuk pengeluaran makanan dan transportasi. Sehingga, jika harga bahan pangan cenderung naik, maka akan mengurangi alokasi pengeluaran untuk nonmakanan, seperti belanja durables goods dan aktivitas leisure lainnya.

Faktor-faktor yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi lainnya menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal dalam CORE Economic Outlook 2024, di Jakarta (12/12/2023) yakni dapat dilihat dari sisi eksternal. Melemahnya pertumbuhan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia, akan signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *