SIARINDOMEDIA.COM – Dewan Keamanan (DK) PBB menyetujui resolusi yang menyerukan Israel dan Hamas melakukan penghentian kekerasan untuk jeda kemanusiaan di seluruh Jalur Gaza, Jumat (22/12/2023) waktu setempat. Jeda kemanusiaan yang diinisiasi lembaga ‘super body’ di PBB itu diharapkan dapat berlangsung lebih lama dan berkelanjutan.
Resolusi bisa lolos karena Amerika Serikat dan Rusia memilih abstain. Hak veto dari kedua negara raksasa itu, jika digunakan, akan mementahkan segala upaya PBB meredakan konflik yang sudah menelan korban jiwa lebih dari 20 ribu warga Gaza dan lebih dari 1.000 warga Israel.
Resolusi tersebut menyerukan “jeda kemanusiaan yang mendesak dan diperpanjang di seluruh koridor Jalur Gaza selama beberapa hari untuk akses kemanusiaan secara penuh, cepat, aman, dan tanpa hambatan”.
Resolusi juga mengharuskan semua pihak mengizinkan dan memfasilitasi penggunaan semua jalur kemanusiaan di Jalur Gaza. Seluruh pengiriman bantuan akan dikoordinasikan dan dipantau pejabat senior PBB.
Security Council adopts resolution calling for the scaling up & monitoring of aid going into Gaza.
The resolution demands all parties allow & facilitate the use of all humanitarian routes & requests the appointment of a senior UN official to coordinate & monitor aid delivery. pic.twitter.com/OVtoTNjbFu
— United Nations (@UN) December 22, 2023
Meski demikian, proses pengesahan resolusi tersebut sempat melalui jalan terjal dan alot.
Para diplomat AS terus menerus berselisih dengan diplomat dari negara anggota DK PBB lainnya saat penyusunan draft resolusi yang menginginkan seruan dalam kalimat yang lebih lugas dan keras untuk gencatan senjata sekaligus diberlakukannya jeda kemanusiaan di Gaza.
Namun dibayang-bayangi veto AS, draft resolusi akhirnya menggunakan bahasa yang lebih ‘lunak’.

Israel sendiri menolak pengesahan resolusi tersebut. Sikap keras kepala negara zionis itu ditunjukkan dengan pernyataan akan terus melanjutkan pertempuran sampai semua sandera dibebaskan.
“Israel akan melanjutkan perang sampai pembebasan seluruh korban penculikan dan dimusnahkannya Hamas di Jalur Gaza,” kata Menlu Israel, Eli Cohen, di media sosial.
Sedangkan Dubes Israel untuk PBB, Gilad Erdan, mengecam Dewan Keamanan yang tidak mengutuk Hamas atas serangan yang dilakukannya pada 7 Oktober lalu. Serangan itulah yang menyebabkan bombardir Gaza hingga saat ini.
“Ini adalah hal yang memalukan yang menunjukkan betapa tidak relevannya PBB dalam perang di Gaza,” kata Erdan.
Sementara itu, Hamas menegaskan tidak akan lagi membebaskan sandera sampai Israel menyetujui gencatan senjata. (TON)













