SIARINDOMEDIA.COM – Menjelang natal, Kota Betlehem di Tepi Barat, Palestina, selalu semarak dengan ornamen-ornamen dan nuansa khas perayaaan hari besar tersebut. Namun tidak untuk tahun ini. Umat Kristen Palestina memutuskan meniadakan perayaan natal di kota tempat kelahiran Yesus itu sebagai bentuk solidaritas mereka atas penderitaan warga Jalur Gaza yang terus menerus dibombardir Israel.
Dekorasi yang dipasang setiap menjelang natal yang menampilkan adegan kelahiran Yesus di kandang domba, dibongkar. Gereja Lutheran menggantinya dengan puing-puing bangunan yang secara simbolis melambangkan anak-anak yang terbunuh di Gaza.
“Seandainya Yesus lahir hari ini, dia akan lahir di bawah reruntuhan akibat serangan Israel. Betlehem turut sedih dan berduka,” kata Pendeta Munther Isaac kepada Al-Jazeera.

Apa yang dikatakan Pendeta Isaac tersebut merefleksikan perasaan tidak berdaya yang dia dan warga lainnya rasakan ketika bom terus menghujani Gaza.
Untuk diketahui, tradisi perayaan natal sangat terkait erat dengan Palestina yang menjadi rumah bagi sejumlah tempat paling suci dalam agama Kristen. Di antaranya adalah Church of Nativity (Gereja Kelahiran) di Betlehem dan Gereja Makam Suci di Yerusalem Timur yang dianeksasi Israel.
Selama beberapa dekade setiap menjelang natal, warga Palestina selalu mengingatkan sejarah tersebut, juga penggambaran sosok Yesus, untuk memprotes pendudukan Israel di wilayah mereka.

Organisasi HAM terkemuka seperti Amnesty International membandingkan perlakuan Israel terhadap warga Palestina tak ubahnya ‘apartheid’ di Afrika Selatan pada masa lalu.
Organisasi tersebut menyatakan pembunuhan di luar hukum, penahanan semena-mena dan perlakuan diskriminasi menjadi peristiwa sehari-hari yang dialami warga sipil Palestina.
Mayoritas penduduk Palestina adalah Muslim. Namun demikian, umat Kristen Palestina juga memainkan peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina.

Nabil Khoury, diaspora Palestina yang berprofesi sebagai dokter di Michigan, AS, mengatakan perbedaan kepercayaan tidak serta merta menghilangkan nasionalisme bangsanya. Sebagai seorang Kristen Palestina, dia tidak memandang dirinya berbeda dengan saudara-saudara Muslimnya.
“Kami adalah satu kesatuan dari bangsa Palestina. Dan keyakinan akan masa depan kami bergantung pada bangsa kami sendiri,” ujarnya. (TON)













