SIARINDOMEDIA.COM – Kepala Badan Pengungsi PBB untuk Pengungsi Paletina (UNRWA) mengatakan sembilan minggu gempuran Israel telah membuat Jalur Gaza tak lagi layak dihuni manusia.
Hal itu dikatakan Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, hari Kamis. Menurutnya, ketika kelaparan merebak di mana-mana dan tempat penampungan PBB telah penuh sesak, Israel harus segera menghentikan agresinya di wilayah tersebut.
Lazzarini menambahkan, operasi darat Israel di Gaza telah memaksa lebih dari satu juta pengungsi pergi ke selatan menuju Kota Rafah.
“Rafah sekarang menjadi pusat pengungsian,” ujarnya.

“Salah satu gedung (PBB) yang menjadi tempat penampungan, kini disesaki sekitar 30.000 orang. Mereka beruntung bisa masuk ke sana. Tetapi bagi yang lain yang sama sekali tidak punya tempat tujuan, mereka hidup di alam terbuka, di udara dingin, di lumpur dan di bawah guyuran hujan,” kata Lazzarini.
“Ke mana pun Anda melihat, penuh dengan gubuk-gubuk sementara ala kadarnya. Orang-orang sudah putus asa, lapar dan ketakutan,” lanjutnya.
Di awal bombardirnya pada Oktober lalu, Israel memerintahkan penduduk Kota Gaza untuk bergerak ke selatan demi keselamatan mereka. Namun ketika mereka mematuhi perintah tersebut, pesawat-pesawat Israel justru mulai mengebomi Khan Younis, sehingga mereka terpaksa bergerak lebih jauh ke selatan.
Dengan masuknya pasukan darat Israel ke kedua kota tersebut, Rafah kini menjadi satu-satunya tempat yang relatif paling aman.
Hanya saja, gelombang pengungsi dari Gaza dan Khan Younis telah membuat populasi Rafah meningkat empat kali lipat. Hal ini, kata Lazzarini, tentu saja membebani Kota Rafah yang sumber dayanya terbatas. Apalagi Rafah merupakan wilayah termiskin di Jalur Gaza.

Pengepungan total berminggu-minggu yang dilakukan Israel telah menyebabkan kekurangan makanan dan air bersih.
Lembaga-lembaga kemanusiaan juga mengeluh konvoi truk bantuan yang diizinkan melewati perbatasan Mesir-Rafah tak dapat memenuhi kebutuhan hajat hidup jutaan orang di sana.
“Beberapa pekan terakhir, kami menjumpai semakin banyak orang yang belum makan dalam satu, dua, atau tiga hari,” kata Lazzarini.

Kondisi ini membuat truk-truk yang membawa makanan sering kali tidak sampai ke tempat penampungan dan titik distribusi PBB.
“Mereka menghentikan truk bantuan, mengambil makanan dan langsung memakannya,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Wakil Kepala WFP (Program Pangan Dunia) PBB yang menyatakan bahwa setengah dari seluruh warga Gaza ‘kelaparan’. Tragisnya, mereka tidak tahu kapan dan dari mana makanan untuk mereka selanjutnya.

“Apa yang terjadi saat ini di Gaza seharusnya membuat marah siapa pun,” kata Lazzarini.
Dia menegaskan hanya pencabutan blokade Israel yang diikuti dengan ‘mengalirnya bantuan dan tanpa syarat’ ke Jalur Gaza yang bisa mengembalikan tragedi kemanusiaan yang saat ini terjadi di wilayah tersebut. (TON)













