SENGAJA SERANG WARTAWAN, ISRAEL PERTONTONKAN BRUTALITAS DALAM PERANG

SIARINDOMEDIA.COM – Israel dituding secara terang-terangan melakukan kejahatan perang setelah dengan sengaja menyerang sejumlah wartawan yang meliput konflik Israel-Hamas di Lebanon. Serangan itu menewaskan seorang wartawan.

Demikian pernyataan dua kelompok pembela Hak-Hak Asasi Manusia, Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW), Kamis.

Menurut mereka, serangan Israel terhadap tujuh wartawan di Lebanon Selatan pada 13 Oktober 2023 lalu, menewaskan wartawan Reuters, Issam Abdallah dan melukai enam lainnya. Serangan tersebut dituding sebagai “serangan langsung yang ditujukan terhadap warga sipil”, tindakan yang bisa digolongkan sebagai kejahatan perang.

Issam Abdallah
SENGAJA DIBUNUH. Wartawan Reuters, Issam Abdallah, yang tewas akibat serangan Israel. Foto: PBS

Dalam pernyataannya, Amnesty International menyebut mereka telah melihat lebih dari 100 foto dan video, menganalisa pecahan senjata serta mewawancarai sembilan saksi.

Sementara HRW mengatakan telah mendengarkan keterangan tujuh saksi, termasuk tiga wartawan yang terluka. Organisasi itu juga mengaku telah menganalisa 49 video, puluhan foto dan gambar satelit.

Keduanya kemudian memastikan orang-orang yang diserang Israel tersebut sebenarnya sudah jelas-jelas “terindentifikasi sebagai jurnalis” yang tengah bertugas. Pasalnya, mereka memiliki tanda pengenal yang jelas, termasuk helm dan rompi anti peluru bertuliskan “Press”. Mereka juga tidak berada di dekat area di mana pertempuran sedang berlangsung.

Baik Amnesty International maupun Human Rights Watch berkesimpulan sama, militer Israel melakukan dua serangan terpisah dalam rentang waktu 37 detik yang sengaja ditujukan kepada warga sipil.

Dalam laman resminya, HRW mengutuk serangan brutal Israel terhadap wartawan yang sedang bertugas.

“Penyelidikan kami terhadap kejadian tersebut mengungkapkan bukti-bukti mengerikan yang menunjukkan serangan terhadap sekelompok jurnalis yang menjalankan profesi mereka dengan melaporkan pertempuran yang tengah berlangsung,” kata kata Aya Majzoub, wakil direktur regional Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Para wartawan yang tewas akibat serangan Israel
GUGUR SAAT MENJALANKAN TUGAS. Para wartawan yang gugur saat menjalankan tugas. Mereka kerap menjadi sasaran militer Israel bahkan sebelum konflik terbuka Israel-Hamas bulan Oktober lalu. Foto: Committee to Protect Journalists

Majzoub mengatakan wartawan tidak boleh menjadi target serangan untuk dibunuh hanya karena sedang menjalankan tugas mereka. Menurutnya, tindakan semena-mena Israel yang secara sengaja menyasar wartawan tidak boleh dibiarkan begitu saja.

“Serangan langsung terhadap warga sipil dan serangan tanpa pandang bulu sangat dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang,” ucapnya.

Hal itu diamini Ramzi Kaiss, peneliti Lebanon di HRW. Dia mengatakan bahwa NGO tersebut telah mendokumentasikan kasus-kasus lain yang melibatkan pasukan Israel.

“Mereka harus dimintai pertanggungjawaban. Perlu diketahui, wartawan dan warga sipil bukanlah target serangan yang dibenarkan dalam perang,” ujar Kaiss, dikutip dari Associated Press.


Sementara itu, Dyan Collins, jurnalis video AFP asal Boston, AS, mengatakan bahwa rekan-rekannya berada di lokasi kejadian selama lebih dari satu jam sebelum serangan. Sehingga mereka merasa “aman”.

Collins menjelaskan bahwa keberadaan para wartawan di sebuah bukit terbuka itu terlihat jelas oleh pasukan Israel. Posisi mereka juga dipantau terus menerus melalui drone.

“Tidak ada aktivitas militer apa pun di sekitar kami,” ujarnya.

Karena itu, Collins sangat menyesalkan serangan Israel yang sengaja menargetkan para wartawan.

“Tugas kami melaporkan berita. Bukan menjadi berita,” tegasnya. (TON)

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *