BAPPENAS JANJI MINTA KEMENKES KAJI KEMBALI KEBIJAKAN LEPAS NYAMUK WOLBACHIA

SIARINDOMEDIA.COM – Merespon penolakan sejumlah elemen masyarakat, Bappenas berjanji akan meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengkaji kembali kebijakan melepas nyamuk Wolbachia di Indonesia.

Hal itu dikatakan Staf Khusus Kementerian PPN/Kepala Bappenas, Kemal Taruc, usai menemui pengunjuk rasa yang terdiri dari para pegiat kesehatan di depan kantor PPN/Bappenas, Kamis (30/11/2023).

Menurutnya, pihaknya akan membuka komunikasi dengan Kemenkes soal pelepasan nyamuk Wolbachia di beberapa daerah di Indonesia untuk menekan kasus DBD.

Bappenas juga siap menjadi menjadi mediator pihak-pihak yang kontra penyebaran nyamuk tersebut dengan Kemenkes.

Namun demikian, Taruc menjelaskan posisi Bappenas yang tidak dalam kapasitas menolak program yang sudah diujicobakan di Yogyakarta sejak tahun 2011 tersebut.

“Kita tidak bisa membatalkan. Presiden yang bisa,” ujarnya.

Taruc menambahkan, belum ada pembicaraan langsung dengan Kemenkes soal pelepasan nyamuk Wolbachia. Kemenkes juga tidak berkewajiban melapor ke Bappenas karena itu merupakan program pilot project.

Hanya saja, Bappenas berjanji akan membuka komunikasi dengan Kemenkes untuk menjelaskan masalah tersebut dan mengklarifikasikannya kepada masyarakat.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI dalam laman resminya, menerangkan implementasi teknologi nyamuk dengan bakteri wolbachia berhasil menurunkan incidence rate demam berdarah di Yogyakarta.

“DI Yogyakarta berhasil menurunkan incidence rate demam berdarah di bawah standar WHO, yaitu 1,94 per 100 ribu penduduk data pada Juli 2023 dengan mengimplementasikan teknologi Wolbachia. WHO menetapkan standar untuk incidence rate atau frekuensi kesakitan sebesar 10 per 100 ribu penduduk,” kata Menteri Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR RI terkait Implementasi Wolbachia di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Menkes Budi menjelaskan, wolbachia adalah bakteri alami yang ada di dalam tubuh beberapa serangga seperti lalat buah, kupu-kupu, ngengat.

“Bakteri wolbachia ini di nyamuk pun ada, jadi bukan sesuatu yang dibikin-bikin,” imbuhnya.

Karena itu, Kemenkes tetap akan melakukan implementasi awal program wolbachia di 5 kota, yakni Semarang, Bandung, Jakarta Barat, Bontang dan Kupang.

Pemilihan wilayah itu berdasarkan analisis insiden dengue, kepadatan penduduk, keterwakilan wilayah, dan komitmen kepala daerah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *