SIARINDOMEDIA.COM – Belakangan ini ramai diperbincangkan penyebaran nyamuk Wolbachia di tanah air. Nyamuk yang telah disuntikkan bakteri Wolbachia itu diklaim dapat menurunkan angka penyakit demam berdarah. Tak main-main, prosentase penurunannya disebut mencapai angka 77%.
Melihat efektivitasnya dalam menekan kasus demam berdarah, nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia ini pun disebar di 14 negara, termasuk Indonesia. Yogyakarta adalah daerah pertama di tanah air yang dilakukan penyebaran nyamuk Wolbachia pada tahun 2016.
Sejak diimplementasikan, angka kasus DBD di Kota Yogyakarta berangsur menurun. Dan di tahun 2023, angka kasus demam berdarah mencatatkan rekor terendahnya, yakni 67 kasus.
Dikutip dari laman UGM, penurunan kasus DBD tidak terlepas dari intervensi program nyamuk ber-Wolbachia, yang dilakukan sejak tahun 2016. Upaya itu dibarengi dengan cara-cara pemberantasan nyamuk dengan 3M dan jumantik.
Menurut dr Lana Unwanah, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, berkat penerapan program World Mosquito Program (WMP) pengendalian DBD di Kota Yogyakarta kini berjalan lebih efektif.

Seiring dengan tren penurunan angka kasus dan tingkat rawat inap, kebutuhan akan intervensi fisik berupa pengasapan atau fogging menjadi berkurang. Penggunaan anggaran pemerintah daerah untuk penanganan DBD pun menjadi lebih efisien sehingga dapat dialokasikan untuk penanganan penyakit lainnya.
Mereka yang pro terhadap penggunaan nyamuk ber-Wolbachia untuk mengendalikan kasus demam berdarah, juga menyatakan adalah tidak benar pengembangan nyamuk ini ditujukan untuk depopulasi manusia. Juga tidak terbukti nyamuk ini menyebabkan radang otak atau penyakit-penyakit lainnya.
Selain itu, hampir semua orang sepanjang hidupnya pernah tergigit serangga ber-Wolbachia. Ternyata gigitan itu tidak menimbulkan efek yang berbahaya.
Dengan demikian berdasarkan evaluasi dan kajian resiko yang sudah dilakukan, manfaat nyamuk Wolbachia untuk menurunkan DBD dapat diperluas. Hal ini untuk membantu melindungi masyarakat dari kasus-kasus demam berdarah yang setiap tahun merenggut banyak korban jiwa.

Namun pandangan ini dibantah keras mereka yang berada di barisan penentang. Mereka menuding pemerintah menjadikan rakyatnya sebagai kelinci percobaan dengan menyebarkan nyamuk Wolbachia ke sejumlah kota di Indonesia.
Sesuai Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan Nomor 1341 Tahun 2022, pemerintah memang mengatur tentang penyelenggaraan pilot project penanggulangan DBD melalui Wolbachia di lima kota, yakni Jakarta Barat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).
Berbagai reaksi pun bermunculan terkait SK tersebut. Mulai yang berbasis kajian ilmiah hingga yang hanya berdasarkan informasi sepotong-sepotong.
Jika yang berbasis kajian ilmiah menyandarkan argumen pada kekhawatiran dampaknya pada ekologi serta pengimplementasiannya yang terlalu cepat, lain lagi dengan yang keukeuh akibat ramainya isu-isu di internet, terutama yang menyebar melalui media sosial.

Orang-orang atau influencer yang mendadak jadi ‘pakar biologi’ inilah yang menjadi biang distorsi informasi yang sesungguhnya tentang nyamuk Wolbachia. Fokus pada upaya pengendalian DBD malah berbelok jadi aneka teori konspirasi global.
Ruang-ruang publik dipenuhi dengan rumor jentik nyamuk yang sengaja diimpor untuk merusak anak bangsa, depopulasi manusia, hingga niat Bill Gates (donatur terbesar WMP) membuat sebagian penduduk bumi menjadi kaum ‘melambai’ dengan dimasukannnya bakteri Wolbachia di tubuh nyamuk. Konyol.
Sementara itu, mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, mengambil jalan tengah. Meski cenderung menolak kebijakan kementerian yang pernah dipimpinnya itu dengan alasan-alasan logis, tapi dia tetap bersikap hati-hati dalam memberikan pernyataan.
Dalam akun TikToknya, @siti_fadilah_supari, Menteri Kesehatan di era Presiden SBY ini mempertanyakan langkah tergesa-gesa pemerintah menyebarkan nyamuk Wolbachia di Indonesia. Padahal, menurutnya, trend kasus demam berdarah di tanah air terus turun.
@siti_fadilah_supari Selama beberapa hari terakhir ini, banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang penyebaran nyamuk wolbachia yang kontroversial itu, dalam konten saya kali ini saya ingin mengajak sahabat semua untuk berpikir secara logis dan obyektif, berbahayakah nyamuk wolbachia dan apa manfaatnya bagi masyarakat? smoga VT ini bisa menjawab semua pertanyaan dan keresahan, jangan lupa like dan komennya, dan bagikan sebanyak banyaknya agar menjadi kesadaran kritis masyarakat akan kebijakan pemerintah yang sedang atau akan dijalankan #sitifadilahsupari #nyamuk ♬ suara asli – Siti Fadilah Supari
Sebagai informasi, Wolbachia adalah salah satu genus bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan artropoda. Infeksi Wolbachia pada hewan akan menyebabkan partenogenesis (perkembangan sel telur yang tidak dibuahi), kematian pada hewan jantan, dan feminisasi (perubahan serangga jantan menjadi betina).
Wolbachia adalah bakteri alami yang ada pada hampir separuh spesies serangga dan invertebrata seperti laba-laba dan nematoda.
Wolbachia hanya dapat diturunkan inang yang terinfeksi pada keturunannya, dan bukan pada lingkungan. Inang yang terinfeksi Walbochia juga tidak dapat menularkan pada spesies serangga lainnya.
Genus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1924 oleh Marshall Hertig dan Simeon Burt Wolbach pada nyamuk Culex pipiens. Mereka mendeskripsikannya sebagai “organisme pleomorfik, berbentuk batang, Gram-negatif, intraseluler yang hanya menginfeksi ovarium dan testis”.
Hertig secara formal mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1936, dan mengusulkan nama generik dan spesifik: Wolbachia pipientis.

Penelitian tentang Wolbachia meningkat setelah tahun 1971, ketika Janice Yen dan A. Ralph Barr dari UCLA menemukan bahwa telur nyamuk Culex dibunuh oleh ketidakcocokan sitoplasma ketika sperma laki-laki yang terinfeksi Wolbachia membuahi telur yang bebas infeksi.
Di Indonesia, riset terkait teknologi nyamuk ber-Wolbachia di Indonesia dilakukan oleh World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, yang merupakan kolaborasi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Monash University, dan Yayasan Tahija.
Adalah Prof dr. Adi Utarini, MSc., MPH, PhD yang memimpin tim untuk meneliti teknologi Wolbachia dalam pengendalian dengue di Yogyakarta. Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga peneliti utama WMP ini menjelaskan bahwa implementasi teknologi tersebut di masyarakat didahului analisis resiko oleh tim ahli yang dibentuk Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi.
Dari identifikasi berbagai potensi dampak, disimpulkan bahwa resiko dari penerapan teknologi ini sangat rendah atau dapat diabaikan.
“Tidak serta merta diterapkan, ada proses penting yang dilakukan sebelumnya. Semua dilakukan dengan kehati-hatian dan dikawal dengan ethical clearance,” terangnya.
Kerja keras yang dilakukan Prof Adi Utarini bersama tim selama kurun waktu 2016-2020, membuahkan hasil. Kasus demam berdarah di Yogyakarta terus menunjukkan trend penurunan.
Karena dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap perang melawan nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah, demam Chikungunya serta Zika, Prof Adi Utarini masuk dalam daftar bergengsi 100 orang paling berpengaruh di tahun 2021, versi majalah TIME.

Terlepas dari itu semua, pro kontra efektivitas penyebaran nyamuk Wolbachia untuk menekan angka kasus demam berdarah di Indonesia, semakin melebar ke mana-mana. Bukan lagi ilmiah versus ilmiah. Tetapi asumsi pribadi berhadap-hadapan dengan teori-teori antah berantah. Sekaligus mempertegas sikap bawaan orok sebagian besar masyarakat kita. Latah.
Tak hanya itu, sadar atau tidak, mereka telah mengalami apa yang disebut dengan Efek Dunning Krueger.
Yang mengkhawatirkan, ketika banyak orang sibuk memperdebatkan sesuatu tanpa basis keilmuan yang memadai, maka isu yang diperdebatkan bisa kehilangan substansinya. Alih-alih malah mengaburkan informasi yang sesungguhnya dan jadi bahan debat kusir baru. (TON)












