SIARINDOMEDIA.COM – Israel dan Hamas dikabarkan tengah mempertimbangkan kesepakatan gencatan senjata sementara. Kesepakatan yang dimediasi AS tersebut mencakup pembebasan puluhan sandera yang ditahan di Gaza.
Dikutip dari Washington Post, usulan penghentian operasi tempur kedua belah pihak akan berlangsung lima hari. Sekitar 50 sandera akan dibebaskan dalam 24 jam ke depan. Total, ada 239 sandera yang sampai sekarang masih tertahan di Gaza.
Gencatan senjata akan diawasi ketat. Masa jeda juga akan dimanfaatkan untuk masuknya bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.
Merespon berita di Washington Post tersebut, seorang juru bicara Gedung Putih melalui postingan di X.com, mengatakan kesepakatan memang belum sepenuhnya tercapai, tapi arah penghentian pertempuran akan terus diupayakan semaksimal mungkin.
We have not reached a deal yet, but we continue to work hard to get to a deal. https://t.co/rbSqcqfaKo
— Adrienne Watson (@NSC_Spox) November 19, 2023
Usulan gencatan senjata yang mensyaratkan pembebasan sandera tampaknya mengakomodir tuntutan Tel Aviv. Di tengah meningkatnya tekanan dunia internasional, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikeras tak akan menghentikan aksi militer Israel ke Gaza kecuali seluruh sandera dibebaskan.
Sedangkan Presiden AS, Joe Biden, menyatakan pentingnya ‘jeda kemanusiaan’ mengingat korban jiwa warga Palestina yang telah melampaui 12.000 orang dan angkanya terus meningkat.
Gempuran Israel ke sekolah di Gaza tewaskan puluhan orang
Sementara itu, sehari sebelumnya serangan udara Israel ke dua sekolah yang dikelola PBB di Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza Utara, al-Fakhoora dan sekolah Tel al-Zaatar. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa serangan tersebut menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak. Serangan itu juga melukai ratusan orang lainnya.

“Banyak foto dan rekaman mengerikan dari orang-orang yang terbunuh dan terluka di sekolah UNRWA yang menampung ribuan pengungsi di utara Jalur Gaza,” tulis Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA (Badan PBB untuk pengungsi Palestina, red) dalam postingannya di X.com hari Sabtu kemarin.
“Serangan-serangan ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal, harus dihentikan. Gencatan senjata (demi) kemanusiaan tidak bisa ditunda lebih lama lagi,” kata Lazzarini.
Receiving horrifying images & footage of scores of people killed and injured in another @UNRWA school sheltering thousands of displaced in the north of the Gaza Strip.
These attacks cannot become commonplace, they must stop. A humanitarian ceasefire cannot wait any longer.
— Philippe Lazzarini (@UNLazzarini) November 18, 2023
Pada hari yang sama, UNRWA menyatakan militer Israel tidak mengizinkan suplai bahan bakar yang cukup untuk menjalankan operasi kemanusiaan badan PBB tersebut.
“Setelah tertunda berminggu-minggu, pemerintah Israel hanya menyetujui setengah dari kebutuhan minimun harian bahan bakar untuk operasi kemanusiaan di Gaza,” demikian pernyataan UNRWA.
UNRWA menambahkan, setidaknya 787.000 pengungsi berlindung di berbagai fasilitas miliknya. 66 orang di antaranya tewas terbunuh akibat serangan udara Israel.
Sejauh ini, konflik yang dimulai pada 7 Oktober lalu membuat 1,6 juta orang mengungsi dan membunuh lebih dari 12 ribu jiwa, sebagian besarnya wanita dan anak-anak. (TON)













