SIARINDOMEDIA.COM – Sedikitnya 100 orang terluka dan satu orang ditangkap ketika melakukan unjuk rasa untuk menyerukan gencatan senjata aksi militer Israel di Gaza.
Unjuk rasa besar-besaran tersebut telah dilakukan di luar gedung DNC (Democratic National Committee) di Washington DC Kamis (16/11/2023) waktu AS atau Jumat (17/11/2023) WIB. Polisi terpaksa menangkap para demonstran karena telah melakukan protes secara ilegal dan dengan kekerasan.
Sebelum ditangkap, para pengunjuk rasa disemprot merica dan didorong oleh polisi saat melakukan demonstrasi.
Penyelenggara demonstrasi Dani Noble membantah tuduhan polisi bahwa pengunjuk rasa melakukan kekerasan.
“Kami, para anggota Suara Yahudi untuk Aksi Perdamaian, organisasi Yahudi anti-Zionis terbesar di dunia, berkumpul di luar gedung DNC sekitar jam 7 malam setelah menyalakan lilin, meminta gencatan senjata di Gaza, dan kami lalu bergandengan tangan di pintu masuk DNC untuk berbicara secara damai dengan anggota parlemen,” ujarnya.
“Tiba-tiba polisi mendorong para demonstran dan menarik mereka menjauh dari pintu masuk gedung,” dia menambahkan.
Sumaya Awad, seorang anggota Sosialis Demokrat Amerika Kota New York yang ikut berkumpul bersama para demonstran turut berkomentar.
“Polisi merespons dengan kekerasan. Mereka tidak memberi peringatan kepada kami,” katanya.
Namun pihak kepolisian membela diri atas kejadian tersebut.
“Petugas kami berupaya untuk menahan sekitar 150 orang yang melakukan protes ilegal di area Canal Street dan Ivy Street, SE,” tulis Polisi Capitol di media sosial.
Polisi Capitol juga melaporkan semua anggota Kongres dievakuasi dari daerah tersebut.
Serangkaian demonstrasi besar untuk menyerukan gencatan senjata telah terjadi di seluruh Amerika Serikat dalam beberapa minggu sejak Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober 2023 lalu.
Israel merespons dengan melakukan blokade dan serangan militer tanpa henti di Gaza, termasuk melakukan serangan yang menargetkan Al-Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza. Serangan dilakukan karena menurut Israel, Hamas telah mendirikan pusat komando operasi di Al-Shifa meskipun Hamas membantah tuduhan tersebut.














