OM KANDUT, PELATIH LEGENDARIS MALANG BERPULANG

SIARINDOMEDIA.COM – Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang salah satu pelatih legendaris Malang, Rohanda. Om Kandut, sapaan akrabnya, meninggal dunia pada Selasa (31/10/2023) siang di kediamannya di Jalan Semeru 26, Kota Malang.

Rohanda berpulang di usia 71 tahun, dikabarkan karena sakit yang dideritanya. Jenazah dimakamkan di TPU Kasin hari ini juga.

Semasa hidupnya, almarhum menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sepak bola Malang. Sebelum Arema lahir 11 Agustus 1987, Persema merupakan klub sepak bola perserikatan yang betul-betul membawa nama Malang. Meski kalah pamor dari saudara ‘tuanya’ Persebaya Surabaya, Persema pernah menjadi bond perserikatan di Jatim yang cukup disegani di erah 80-an.

Salah seorang sosok yang boleh dikatakan identik dengan Persema adalah Rohanda. Sempat menjadi punggawa tim dengan kostum khas biru langit, Rohanda yang kemudian lekat dengan panggilan Om Kandut di antara para pemain Persema, lebih banyak berkarir sebagai pelatih.

Kecintaannya pada Persema dibuktikan dengan loyalitasnya sebagai pelatih dengan jabatan terlama di klub yang didirikan pada tahun 1953 ini.

Malang boleh dipimpin Wali Kota yang berbeda-beda, mulai Tom Uripan hingga Peni Suparto, namun tidak dengan jabatan pelatih Persema. Semenjak gantung sepatu di awal 80-an, Om Kandut berkali-kali dipanggil untuk menangani tim. Ironisnya, panggilan ‘tugas’ itu datang justru ketika Persema dalam posisi terpuruk.

Namun hal itu tak membuat pria berpenampilan sederhana ini menampiknya. Lekat dengan sikap tegas, keras, tapi juga ngemong, Om Kandut sukses membawa Persema kembali bersaing di kompetisi. Bahkan melalui tangan dinginnya, muncul pemain-pemain bertalenta seperti Suliadi, Maryanto, Harry Siswanto, Bambang Sumantri, Aji Santoso hingga Ahmad Bustomi.

Rohanda memberi instruksi di lapangan
LAHIRKAN BANYAK PEMAIN HEBAT. Rohanda saat memberi instruksi pemain di lapangan. Foto: Skor.id

Puncak prestasi Persema di kancah persepakbolaan nasional adalah saat menjuarai Divisi 1 Liga Perserikatan di tahun 1990. Tim besutan Rohanda kala itu di final mengalahkan PSIM Yogyakarta 1-0 melalui gol tunggal Harry ‘Hunter’ Siswanto.

Sayangnya selepas itu prestasi Persema seperti jalan di tempat. Jadi tim medioker. Hal ini tak terlepas dari naiknya popularitas tim sekota, Arema, yang perlahan menjadi ikon sepak bola di Malang. Tak sedikit pula pemain Persema yang kemudian hijrah ke Arema.

Om Kandut menanggapinya dengan santai. Menurutnya, wajar pemain bola berpindah klub yang menjanjikan ketenaran dan karir yang lebih baik. Dia mengatakan, Persema dengan klub-klub amatir binaannya, dapat menjadi kawah candradimuka bagi pemain-pemain berbakat.

“Sing penting podo Malange. Ga masalah pemain pindah (ke Arema, red). Kan dengan begitu karir mereka di sepak bola bisa lebih berkembang,” tuturnya suatu ketika.

Ucapan bapak tiga anak ini (putri bungsunya meninggal, red) dibuktikan dengan kesetiaannya melatih Indonesia Muda, salah satu klub amatir di bawah naungan Persema. Tak jarang dia harus merogoh kocek sendiri sekedar untuk membeli bola maupun urunan untuk kaos pemain.

Totalitas pengabdian pada bola inilah yang membuat Rohanda akan selalu dikenang sebagai tokoh sepak bola, khususnya di Malang.

Selamat jalan Coach Kandut… (Ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *