SIARINDOMEDIA.COM – Anak Generasi Z sekarang sepertinya sudah tidak dapat hidup tanpa media sosial. Tentunya hal tersebut membuat banyak para orang tua khawatir.
Bagaimana tidak, akhir-akhir ini banyak anak-anak yang terganggu kesehatan mentalnya karena pengaruh dari media sosial.
Dilansir CNA Lifestyle, Dr. Frances Jensen yang merupakan ahli saraf di University of Pennsylvania dan penulis buku ‘The Teenage Brain’ berpendapat bahwa anak perempuan paling terkena dampak krisis kesehatan mental karena pengaruh media sosial.
Hormon wanita mungkin menjadi faktor penyebabnya.
“Hormon mengubah proses ini,” kata Dr. Frances Jensen.
“Tapi kami belum melihat sejauh mana dampaknya,” imbuhnya.
Dr. Jensen lalu menjelaskan bahwa otak anak berkembang dari belakang ke depan. Perkembangan tersebut dimulai pada masa kanak-kanak dan berlanjut hingga dewasa.
Dan selama otak berkembang, terdapat aktivitas tertentu di bagian tengah otak, yang terlibat dalam umpan balik sosial. Anak-anak sekarang dapat mengakses informasi dengan cepat dengan, tetapi itu tidak selalu positif.
“Di media sosial banyak tekanan dan emosi impulsif yang semuanya tentu sangat asing bagi anak-anak,” kata Dr. Jensen. Karena itu, menurutnya ketika anak sedang mengakses media sosial lebih baik didampingi oleh orang tua.
Sementara itu, Dr. Mitch Prinstein, kepala peneliti di American Psychological Association mengungkapkan bahwa otak anak itu unik. Karena ketika anak-anak menyerap satu informasi kecil saja, itu bisa menjadi perubahan paling penting dalam hidupnya.
“Secara ilmiah, sel neuron pada otak anak masih sangat kuat sehingga mereka tidak mudah melupakan apapun yang meraka lihat atau rasakan,” kata Dr. Prinstein.
Memang, media sosial tidak selalu berpengaruh buruk terhadap otak anak. Ada juga beberapa kasus di mana media sosial justru sangat membantu perkembangan anak. Misalnya, ketika anak sedang belajar membuat sesuatu, mereka hanya tinggal mencari video tutorialnya di media sosial.
Namun, alangkah baiknya jika orang tua bijak dalam mengedukasi bahwa anak tidak harus menyerap semua informasi yang ada di media sosial.
Dan jika anak mendapatkan komentar negatif di media sosial, berikan pengertian jika itu bukan masalah besar. Satu komentar buruk tidak serta merta mendefiniskan bahwa dia adalah orang yang buruk juga.













