SIARINDOMEDIA.COM – Awal September, reporter Siarindo Media, Nabila Zulfa, mengikuti Program Pengabdi Negeri ke Pulau Bungin, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selama dua minggu berada di salah satu pulau terpadat di dunia itu, Nabila akan mengeksplorasi pengalaman serta berbagai peristiwa yang dijalaninya selama di sana. Berikut kisahnya yang dimuat berseri:
Senin, (4/9/2023) sejumlah 12 Pengabdi Negeri berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pulau Bungin, pulau yang menjadi inspirasi film Avatar “The Way of Water”.
Perjalanan cukup melelahkan. Dari Tanjung Perak menuju Pelabuhan Kayangan NTB, transit sebentar. Kemudian lanjut ke Pelabuhan Pototano Sumbawa. Total waktu yang harus ditempuh menuju lokasi tujuan adalah 3 hari 2 malam.

Mengingat lamanya perjalanan serta terjangan ombak yang terkadang lumayan besar, beberapa Pengabdi sempat mengalami mabuk laut. Namun perasaan ‘sea sick’ itu tak terlalu dirasakan karena membayangkan pengalaman mengasyikkan yang akan dijalani selama mengabdi di Pulau Bungin.
Sebagai informasi, Pengabdi Negeri merupakan program pemberdayaan masyarakat di suatu desa atau daerah sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat di desa tertinggal untuk dibina dan dimaksimalkan potensinya sehingga masyarakatnya dapat berkembang dan memiliki pengetahuan serta keterampilan guna mencapai kesejahteraan yang optimal.

Pulau Bungin terletak 70 kilometer dari pusat pemerintahan Sumbawa Besar. Pulau terpencil ini secara adminstratif merupakan salah-satu desa di Kec. Alas, Kab. Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Pulau yang menjadi inspirasi film Avatar “The Way of Water” tersebut memiliki banyak keunikan. Salah satunya adalah jumlah penduduknya. Hanya seluas 8,5 hektar, tapi Pulau Bungin memiliki populasi lebih dari 5.000 jiwa. Tak heran jika pulau ini menduduki nomor 5 pulau terpadat di dunia.
Selain itu, kendati berada di Sumbawa, penduduk pulau kecil ini sebagian besarnya adalah dari suku Bajo yang berasal dari Sulawesi Selatan. Asal mula dari suku Bajo menghuni pulau ini adalah ketika pemukiman pertama disana dirintis oleh Palema Mayu pada abad ke-19. Palema Mayu sendiri adalah salah seorang dari 6 orang anak raja Selayar.

Karena pulau yang padat dan sebagian berprofesi sebagai nelayan, tidak ada lahan untuk tumbuhnya rerumputan di sana. Sejauh mata memandang, tidak ada tidak ada lahan hijau di sana. Hanya tampak pemukiman padat yang saling berhimpitan.

Bahkan kambing di Pulau tersebut memakan kertas dan apa saja yang ditemui untuk pengganti rumput.

Sejumlah 12 pengabdi menuju Pulau Bungin untuk memenuhi Program Kerja (Proker) mereka. Proker tersebut mulai dari kesehatan, sosial lingkungan, pendidikan, ekonomi kreatif dan pariwisata.
Perangkat pemerintah maupun warga setempat pun menyambut baik teman pengabdian.
“Semoga dengan datangnya teman Pengabdi Negeri di Pulau Bungin bisa dikenal oleh masyarakat luas, bahwa Indonesia memiliki potensi yang indah untuk dilestarikan alamnya,” demikian ucapan Jaelani, Kepala Desa Pulau Bungin, saat menyambut para Pengabdi Negeri.















