SIARINDOMEDIA.COM – Puanhayati Kota Malang mengadakan Forum Dialog Interaktif bersama Organisasi Perangkat Derah (OPD) Kota Malang di Hall Technopark Edotel SMKN 3 Kota Malang, Rabu (30/8/2023).
Agenda yang mengangkat tema ‘Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Penghayat & Anak Penghayat dalam Konflik Sosial’ tersebut diikuti oleh 58 peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa organisasi Perempuan lintas agama dan kepercayaan kepada Tuhan YME.
Puan Hayati sendiri merupakan organisasi Penghayat Kepercayaan yang beranggotakan para perempuan. Organisasi yang berdiri pada tahun 2018 di Provinsi Bali tersebut merupakan langkah awal dari hasil terselenggaranya Rapat Nasional Perempuan Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sri Sulistyani, Ketua Pelaksana agenda ini menuturkan, bahwa tujuan digelarnya Forum Dialog Interaktif tersebut untuk memberikan pendekatan kepada khalayak umum.
“Tujuannya untuk mensosialisasikan keberadaan Penghayat. Terus terang kami punya pengalaman pahit, ya. Kami itu bertahun-tahun mendapat stigma pengikut aliran sesat,” kata Sri kepada Reporter Siarindo seusai acara.
“Padahal kami ya sama; menyembah Gusti Allah, punya kitab suci, terus juga (Penghayat itu) bukan buatan manusia,” sambungnya.

Sebelum memasuki segmen forum dialog interaktif, agenda dibuka oleh Dra. Sri Hartini, M.Si., selaku Pamong Budaya Ahli Utama Kemendikbudristek RI. Dalam sambutannya, Hartini berpesan bahwa agenda yang digagas oleh Puanhayati tersebut dapat diselenggarakan secara berkelanjutan.
“Dialog ini saya kira Puanhayati tidak berhenti di sini. Setelah dialog sudah tutup buku kan ndak. Hasil dialog itu kan apa, nanti kan ada rekomendasi,” saran Hartini dalam sambutannya.
“Jadi kalau, saya pinginnya bisa nanti ada diskusinya juga. Tidak hanya dialog kemudian selesai. Nanti ndak ada juntrungnya. Kalau rekomendasi pasti nanti tindak lanjutnya ada,” tambahnya.

Selain mengawali sambutan, Pamong Budaya Ahli Utama Kemendikbudristek RI tersebut juga membuka agenda Perempuan Penghayat ini. Selepas itu, agenda dilanjutkan pada sesi Dialog Interaktif. Pada sesi ini ada tiga narasumber yang menyampaikan materi sesuai kapasitasnya.
Pemateri pertama adalah Amithya Ratnanggani Sirraduhita, S.S., Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Luluk Khafifah, S.E., M.M., Penggerak Swadaya Masyarakat Muda Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang dan Dodik Teguh Pribadi, M.Pd., Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang.
Dalam segmen ini, para audiens tampak aktif memberi feedback terkait materi yang disampaikan. Beberapa pertanyaan kritis dan substantif dapat dijawab dengan lugas oleh ketiga moderator. Dialog terasa hidup seperti yang diharap oleh Para Penghayat.
Di sisi lain, di sela-sela dialog, salah satu anak Penghayat dari komunitas Sapta Darma, Rheiza Geribaldhi diberi kesempatan bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang Penghayat. Cerita yang runtut dan sentimentil menambah nuansa dialog semakin hangat.

Luluk Khafifah, S.E., M.M., Penggerak Swadaya Masyarakat Muda Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang menilai bahwa agenda Puanhayati tersebut sangat bagus dan ke depannya Dinsos P3AP2KB Kota Malang akan melibatkan kaum Penghayat di setiap giat-giatnya.
“Baru kali ini ya saya diundang oleh komunitas Penghayat. Bagus acaranya, paling tida ini nanti ke depannya mungkin ketika kami melakukan sosialisai atau apa insya Allah nanti kami undang,” ujar Luluk kepada reporter Siarindo Media selepas agenda.
“Supaya apa, biar masyarakat tahu bahwa di Indonesia itu (bisa) bertoleransi dalam beragama dan kepercayaan,” imbuhnya.
Lebih jauh lagi, Dodik Teguh Pribadi, M.Pd., Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang berharap ke depannya para anak Penghayat tidak lagi bingung atau menentukan agama apa yang harus dipilih. Sebab Penghayat Kepada Tuhan YME merupakan kepercayaan yang sudah sah dan legal secara hukum.
“(Harapannya) sudah tidak ada lagi peserta didik baik SD, SMP, SMA/SMK itu untuk memilih salah satu dari 6 agama. Karena kalau mereka mulai dari kecil keluarganya dia Penghayat Kepercayaan, maka sekarang dia sudah sah secara hukum dan diakui di pendidikan,” terang Dodik kepada reporter Siarindo media.
“Jadi tidak harus memilih salah satu dari keenam agam yang sudah ada itu; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu. Sekarang ada Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan YME,” sambungnya.
Sementara itu, Sri, Ketua Pelaksana giat acara ini berharap, ke depannya Para Penghayat khususnya Penghayat Perempuan dapat membangun komunikasi yang baik dengan anggota komunitas lintas agama.
“Harapan kami yaitu, membangun hubungan yang harmonis dengan komunitas-komunitas yang lain, sehingga kebebasan anak-anak kami itu tidak terbelenggu lagi,” ungkap Sri.
“Mereka jadi bebas menyatakan diri. ‘oh saya itu orang Penghayat’. Saya kira itu, Mas,” tutupnya.














