SIARINDOMEDIA.COM – Suara anak muda yang terdiri dari generasi Z dan milenial memiliki andil yang besar dalam menentukan hasil Pemilu 2024. Berdasarkan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang disampaikan Komisi Pemilihan Umum (KPU), proporsi pemilih yang berusia 17-39 tahun berkisar 55 sampai 60 persen.
Hal itu menarik perhatian dosen jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Achmad Apriyanto Romadhan, S.IP., M.Si.
Menurutnya, kontribusi anak muda sangat signifikan dalam menentukan arah dan masa depan Indonesia. Maka, mereka perlu menjaga diri agar mampu menggunakan hak pilihnya dengan bijak.
“Perlu menjaga diri agar anak muda tidak terjebak dalam marketing politik yang dilakukan oleh politisi, termasuk di dalamnya pencitraan di depan publik,” jelasnya.
Apriyanto menjelaskan pula terkait hal politik. Masyarakat tidak bisa mengusung atau mencalonkan kandidat karena hal itu merupakan ranah dari partai politik sebagai pengusung. Maka dari itu, masyarakat harus cermat menentukan calon yang dipilih, khususnya yang memiliki track record baik dalam karirnya.
“Karena secara konstitusional masyarakat tidak bisa mencalonkan, maka masyarakat memiliki tugas untuk menginvestigasi dan harus jeli menjatuhkan pilihan politik,” tambahnya.
Lebih lanjut, dia juga membahas mengenai kampanye politik yang saat ini dibenturkan dengan pesatnya perkembangan media informasi teknologi. Salah satu efeknya adalah semakin kaburnya informasi realitas calon. Citra baik yang berusaha ditampilkan tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hal inilah yang menimbulkan bias informasi di kalangan masyarakat, terkhusus anak muda yang tidak terpisah dari dunia digital.
Banyak anak muda yang juga turut terjun dalam kontestasi politik sebagai bakal calon. Ini sah-sah saja karena tidak menyalahi aturan secara konstitusional. Anak muda memang diharapkan mampu menawarkan ide dan gagasan baru. Berfokus pada kebutuhan publik, serta mampu memberikan kontribusi riil yang dirasakan oleh masyarakat.
Dosen UMM ini juga menambahkan bahwa perpolitikan hari ini mengalami dua dilema besar. Di satu sisi, banyak bakal calon yang pragmatis dan tidak mewakili kepentingan publik. Sementara itu di lain sisi, para pemilih juga kurang mendapatkan edukasi dalam menggunakan hak suaranya dengan baik. Terlihat dari salah satu fenomena yakni “suara” yang mudah dibeli atau politik transaksional.
Maka dia memberi solusi dalam menghadapi dua dilema tersebut, yakin perlu dukungan media massa yang menjadi pilar keempat demokrasi. Media massa harus memiliki independensi yang tinggi untuk melakukan investigasi mendalam terhadap track record bakal calon. Anak muda juga diharapkan dapat mengisi ruang-ruang tersebut demi menegakkan demokrasi yang adil.














