SIARINDOMEDIA.COM – Innalillahi wa innallilahi rojiun. Kabar duka berhembus, Ahad (9/7/2023). Muhammad Miran, seorang polisi legend di Malang, meninggal dunia di usia 79 tahun.
Kabar berpulangnya polisi paling legend di Malang ini tak banyak diekspos. Hanya beredar sekilas di grup-grup WA. Meski demikian, ada juga satu unggahan melalui Twitter terkait meninggalnya Miran.
Akun @jee_creepers mencuitkan belasungkawa atas kepergian polisi jujur tersebut.
“Turut berduka cita Pak Pol Miran.
Semoga di Kota ini ada lagi polisi polisi penerusmu yang tanpa pandang bulu menertibkan pelanggaran lalu lintas.”
Tak hanya itu, @jee_creepers juga menyelipkan sindiran mengenai makin semrawutnya Malang dengan emoji senyum yang diiringi linangan air mata.
Turut berduka cita Pak Pol Miran.
Semoga di Kota ini ada lagi polisi polisi penerusmu yang tanpa pandang bulu menertibkan pelanggaran lalu lintas.
Malang tambah semrawut 🥲🥲… pic.twitter.com/Mcu4M0vCMP
— Lupin (@jee_creepers) July 9, 2023
Miran, demikian sapaan akrabnya, sangat populer, khususnya bagi warga Kota Malang. Semasa bertugas di Polresta Malang di awal 1970an hingga akhir 1990an, Miran dikenal sangat tegas dalam menegakkan peraturan, terutama yang berkaitan dengan ketertiban di Kota Malang.
Ketika ada penertiban, ada teriakan bersahut-sahutan yang cukup melegenda kala itu.
“Ono Miran… Ono Miran…”
Teriakan itu sudah cukup membuat pontang panting pedagang, tukang becak, sopir angkot atau siapa saja yang melakukan pelanggaran dengan mengokupasi tempat-tempat umum.
Wajar jika mereka panik karena Miran memang tak pernah pandang bulu saat menemui ada yang berlaku seenaknya seperti berdagang di trotoar atau bahu jalan.
Dalam aksinya Miran tak banyak bicara tapi langsung melakukan tindakan. Menusuk ban becak yang berani sembarangan mangkal di seputaran Alun-Alun/Pasar Besar, menabrak rombong pedagang kaki lima yang ngeyel berdagang di bahu jalan dengan jip yang bempernya diberi besi dan kawat berduri, adalah beberapa tindakan keras Miran dalam menjaga ketertiban di Kota Malang. Bahkan Aremania pun sungkan padanya.
Hebatnya lagi, Miran kebal suap. Dia tak pernah mau ‘main mata’ saat menjalankan tugas. Karena itu, banyak warga Malang yang bersimpati dan mendukung aksi-aksi Miran. Sampai-sampai Wali Kota Malang saat itu, Soesamto, pasrah pada ketegasan lelaki kelahiran Magetan 21 Maret 1944 tersebut.
“Wes opo jare Miran ae,” ungkap Wali Kota Soesamto.
Tetapi segala apresiasi itu tak membuat Miran besar kepala. Warga Kepuh, Sukun, itu tetap hidup bersahaja. Berpangkat terakhir Mayor, dia sempat menjadi Kepala Sekuriti di sebuah pusat perbelanjaan sebelum akhirnya total beristirarahat di rumah dan ngemong cucu.
Kini polisi legend itu telah tiada. Semoga segera ada lagi penerus ‘Miran-Miran’ yang lain.














