SIARINDOMEDIA.COM – Coffeshop atau kafe menjadi salah satu tempat yang identik dengan anak muda. Tak peduli pagi, siang, atau pun malam, mayoritas kaum muda kini memilih kafe sebagai destinasi untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari sekedar nongkrong hingga pertemuan bisnis.
Fenomena yang sama juga menghinggapi anak-anak muda di Kota Malang. Mereka banyak menghabiskan waktu di coffeeshop yang tumbuh bak cendawan di musim hujan.
Salah satu coffeeshop yang menjadi jujukan adalah Mera. Namun berbeda dengan coffeeshop-coffeeshop lainnya, Mera mengusung konsep berbeda.
Mera sendiri berlokasi di dalam gang sempit di kampung Kayutangan Heritage. Kafe tersebut baru berdiri sekitar 3 mingguan tetapi antusias para kaum muda sangat tinggi, karena tempatnya terbilang cukup unik, dan memiliki konsep ‘Anak Gang’ dan ‘Sekolah Terbuka’.
Didin, pendiri coffeeshop tersebut mengatakan esensi dari ‘Anak Gang’ adalah dia ingin orang (kaum muda terutama) yang datang ke kafe ini untuk ikut merasakan kehidupan sosial di dalam gang perkampungan.
“Mera adalah nama sebuah brand tetapi esensi ‘Anak Gang’ merujuk pada orang-orang yang tinggal di dalamnya”, ucap Didin.
Bapak satu anak ini mengatakan dia membuka kafe tersebut berawal dari keresahannya melihat para generasi muda kurang berbaur dengan masyarakat serta kurangnya memiliki etika yang baik saat bersosial. Oleh sebab itu dia membuka kafe ini di dalam gang perkampungan penduduk.
“Aku membuka kafe ini karena memang tujuannya seperti itu, dan coffeeshop ini hanyalah output dari tujuanku yang utama,” ujar Didin saat ditemui reporter siarindomedia.com di coffeshopnya, Rabu (15/3/2023).

Didin mengungkapkan tak segan untuk menegur pelanggan saat datang ke kafenya yang bersikap kurang sopan dan tidak menghargai warga disana.
“Harapanku yang datang kesini tidak hanya ingin membeli kopi tetapi juga ikut merasakan kehidupan yang ada di dalam gang,” jelas Didin.
Selain menjadi ‘sekolah’ (tempat belajar etika), Mera juga memiliki beberapa koleksi buku yang dapat menjadi bahan bacaan bagi pelanggannya. Untuk menambah koleksi buku, Didin membuka donasi buku yang boleh dilakukan siapa saja.
Tak hanya itu, pria ramah ini juga membuka peluang bisnis bagi warga sekitar yang ingin menitipkan usahanya di kafe tersebut.














