SIARINDOMEDIA.COM — Ikatan Keluarga Alumni MAN Tambakberas (IKAMANTAB) menggelar acara “Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah” pada Sabtu, 27 September 2025, di Aula MAN 3 Jombang. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-9 IKAMANTAB sekaligus menyongsong dua abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang akan diperingati pada 2026.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari alumni, santri, guru, serta masyarakat sekitar. KH Abdul Mun’im DZ, sejarawan dan pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), hadir sebagai narasumber utama.
Diskusi dipandu oleh Dr. Mohammad Ahsanuddin, Sekretaris Jenderal IKAMANTAB sekaligus Ketua Departemen Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.
Menambah bobot diskusi, tiga pembedah turut dihadirkan: Zainul Munasikhin, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); M. Shofiulloh Cokro, Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII); serta Prof. Dr. Nur Ali, Ketua IKAMANTAB.
Sorotan Pemikiran KH Abdul Wahab Hasbullah
Ketua Panitia Bedah Buku, KH Syifa’ Malik, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya menggali kembali pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama yang juga tokoh besar pesantren Jombang.
Dalam pemaparannya, KH Abdul Mun’im DZ menguraikan perjalanan hidup KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai ulama pejuang kemerdekaan dan pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Ia menekankan bahwa pemikiran moderat Wahab Hasbullah, yang menekankan keseimbangan antara nilai keislaman dan kebangsaan, menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas nasional.
Perspektif Politik, Pemuda, dan Pendidikan Pesantren
Zainul Munasikhin menyoroti relevansi pemikiran Wahab Hasbullah dalam konteks politik kebangsaan. Ia menilai gagasan sang kiai tentang keterlibatan ulama dalam politik tetap aktual, terutama dalam menjaga moralitas publik.
Sementara itu, M. Shofiulloh Cokro menekankan peran pemuda sebagai penerus pemikiran kebangsaan Wahab Hasbullah. Ia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk meneladani semangat perjuangan yang berpijak pada nilai keislaman moderat.
Prof. Dr. Nur Ali memberikan pandangan dari sisi pendidikan dan peran alumni pesantren. Menurutnya, pemikiran Wahab Hasbullah tentang kemandirian pesantren relevan untuk menjawab tantangan modernisasi.
Moderator Dr. Mohammad Ahsanuddin menambahkan perspektif akademik dalam diskusi tersebut. Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab yang berlangsung hampir satu jam. Beberapa alumni dan santri mengajukan pertanyaan seputar peran pesantren dalam menjaga identitas bangsa dan tantangan generasi muda di era digital.
Selain diskusi, acara diwarnai dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng. Panitia juga mengumumkan bahwa rangkaian peringatan dua abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum akan dilanjutkan dengan kegiatan sosial, kajian ilmiah, dan seminar kebangsaan pada tahun mendatang.
Kegiatan bedah buku ini diharapkan memberi dampak positif bagi peserta dan masyarakat luas. Selain memperkuat hubungan alumni, kegiatan tersebut menjadi sarana meneguhkan peran pesantren sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan penjaga nilai-nilai kebangsaan.












