REKTOR UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO DISKUSI DENGAN JURNALIS KOTA MALANG, SOROTI KETIMPANGAN DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN DI PODCAST SAM REKTOR

SIARINDOMEDIA.COM – Sebuah diskusi publik mengenai masa depan pendidikan Indonesia telah diadakan di Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang pada Jumat, 18 April 2025 melalui podcast bertajuk Podcast Sam Rektor . Acara tersebut dipandu oleh Rektor UIBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, MS, dan diikuti oleh lima tokoh penting dari organisasi pers nasional.

Podcast ini menghadirkan Cahyono dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Benni Indo dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Arif Masbuin dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Darmono dari Pewarta Foto Indonesia (PFI), serta Saiful Arif dari Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

PODCAST SAM REKTOR. Sejumlah tokoh dari organisasi pers nasional duduk bersama dalam Podcast Sam Rektor. Foto: Leonnicha Putri Maharani

Dalam sesi pembukaan, pengalaman pribadi dari Beni Indo saat memulai karir sebagai jurnalis telah diterbitkan.

“Pendidikan itu memutus nasib dalam tanda kutip tidak beruntung,” kutipan dari Guru Besar.

Seorang Guru Besar di Surabaya menekankan bahwa pembekalan bangsa hanya dapat dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan.

Solusi Ketimpangan Akses Pendidikan di Daerah

Pandangan mengenai keterjangkauan pendidikan juga telah disampaikan oleh Cahyono, di mana akses yang murah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan.

Program pembayaran UKT di belakang oleh mahasiswa yang mengalami kendala ekonomi dinilai sebagai solusi yang patut diapresiasi.

“Sepertinya harus ada regulasi dari pemerintah tentang Pendidikan, sehingga bisa meratakan Pendidikan di Indonesia,” ujarnya

Penjajahan Belanda yang fokus pada ekonomi dibandingkan dengan Inggris yang membangun pendidikan dijadikan refleksi sejarah sistem pendidikan Indonesia.

Arif Masbun menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah pusat, tetapi juga daerah masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

Darmono mengutip Rhenald Kasali bahwa konsumsi hiburan yang berlebihan dan rendahnya minat baca menghambat peningkatan kualitas pendidikan.

Biaya pendidikan yang tinggi juga dibahas, seolah-olah negara sedang melakukan praktik perdagangan terhadap warganya sendiri.

Oleh Saiful Arif, kekayaan sumber daya alam dan manusia di Indonesia telah diakui, namun sistem pendidikan yang belum sepenuhnya gratis dinilai sebagai bentuk ketimpangan.

Keberadaan sekolah rakyat dijadikan indikator bahwa pemerataan pendidikan masih belum sepenuhnya tercapai.

“Pemerintah mencanangkan bahwa ada pendidikan gratis. Tapi di tingkat paling bawah itu masih ada beberapa yang belum gratis,” ujarnya.

Ditekankan pula oleh Saiful Arif bahwa pendidikan telah dijadikan sebagai prioritas utama oleh banyak keluarga.

Periode pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga disebut oleh Darmono sebagai masa yang menyenangkan bagi dunia pendidikan.

Adanya libur panjang saat Ramadhan yang dinilai memberi ruang bagi guru untuk lebih fokus dalam mendidik keluarga dan murid.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Authors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *