Tulisan Dr. Imam Muhajirin Elfahmi SH, S.Pd, MM ,
Jaringan Indonesia Berdaya
Penerima Anugerah Insan Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 2024.
SIARINDOMEDIA.COM – Barangkali sebagian dari kita masih ingat, ada seorang anak muda, usia belum genap 30 tahun, begitu populer dengan harta kekayaannya. Bahkan anak muda ini dengan bangganya memamerkan outfit mewah yang dia pakai saat itu sampai menembus harga Rp8 miliar. Jam tangan yang dia kenakan seharga Rp2 miliar, baju senilai ratusan juta. Topi Rp70 juta. Belum sepatu yang harganya selangit. Sehingga seorang presenter menjulukinya dengan Sultan 8 Miliar. Itu baru harta yang sedang dipakai. Belum termasuk rumah, puluhan mobil mewah.
”Semua yang saya impikan sudah bisa terbeli. Kecuali hanya satu yang belum: jet pribadi,” ungkap dia yang ditayangkan di chanel YouTube.
Tak lama dari tayangan YouTube tersebut, publik dibuat tercengang. Ternyata si pemuda tersebut berurusan dengan kepolisian dalam kasus penipuan bisnis trading. Dalam dunia manajemen, apa yang dilakukan si pemuda ”kaya” tersebut namanya flexing. Pamer harta. Padahal dia sesungguhnya kaya boong-boongan. Hartanya yang melimpah hasil nenipu ribuan orang.
Dari kasus di atas, saya jadi ingat pepatah Inggris yang menyebut Poverty Screams but Wealth Whispers (Orang-Orang yang Kaya Itu Tidak Berisik atau Malu Membicarakan Kekayaan). Artinya kalau ada orang yang masih membicarakan kekayaannya, hartanya, itu biasanya sebenarnya belum kaya. Biasanya orang-orang kaya semakin menutupi privasi. Tidak ingin menjadi perhatian.
Apa yang ditunjukkan orang-orang yang suka flexing, sesungguhnya bertentangan jauh dengan nilai Pancasila yang mengusung konsep hidup dalam kesederhanaan. Sederhana belum tentu tidak memiliki apa-apa. Ada banyak kok konglomerat negeri ini yang masih dengan penampilan sederhana. Bukan tidak mampu membeli kemewahan harta. Tapi merasa tidak perlu bermewah-mewah, sementara orang sekitar masih banyak yang kekurangan.
Hidup sederhana mengajarkan kepada kita untuk selalu merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Karena itu kesederhanaan bisa jadi sumber kebahagiaan. Perilaku hidup sederhana adalah cara menyesuaikan dengan kondisi sesungguhnya. Tidak perlu memaksakan diri untuk menunjukkan dirinya kaya, padahal sesungguhnya masih belum pada level itu.
Dengan membiasakan hidup sederhana, justru bisa menjadi pintu menuju kesuksesan. Karena secara tidak langsung melatih mengatur keuangan. Tidak boros mengeluarkan uang yang tidak sesuai kebutuhan. Lebih hati-hati membelanjakan uangnya.
Sebagai orang tua, sikap sederhana juga harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak tidak harus dimanja dengan guyuran uang yang banyak. Mereka harus dibiasakan dengan uang saku secukupnya saja. Biar mereka tidak terbiasa pamer harta milik orang tuanya.
Ayo Gemilangkan Indonesia. (CF)











