SIARINDOMEDIA.COM – Nanda Putra Nugraha, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Bina Nusantara (Binus) angkatan 2020, tengah mengembangkan sebuah game berbasis budaya wayang sebagai proyek skripsinya.
Sejak kecil, Nanda sudah tertarik dengan wayang kulit, terutama setelah ayahnya memberikannya satu set wayang kulit dari kulit sapi, termasuk tokoh-tokoh Pandawa dan Gatotkaca. Ketertarikannya terhadap wiracarita ini membuatnya ingin menciptakan sebuah game yang tidak hanya menawarkan petualangan, tetapi juga pengalaman belajar budaya yang mendalam.
Nanda menjelaskan, ada dua tujuan utama dari pengembangan game ini. Pertama, untuk memperkenalkan budaya pewayangan kepada khalayak luas melalui platform Roblox, menciptakan dunia di mana pemain bisa menjelajahi dan memahami nilai-nilai luhur dari cerita-cerita wayang.
Kedua, tujuan bisnisnya adalah menciptakan game dengan selling point yang unik, berbeda dari kebanyakan game yang bertema Jepang atau Asia Timur lainnya.
Dengan mengangkat budaya Indonesia, dia berharap game ini bisa menarik perhatian pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun global.
“Dalam game ini, saya ingin pemain tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar tentang cerita-cerita wayang yang kaya akan nilai moral,” ujar Nanda.
Dalam proses pengembangannya, Nanda sendiri bekerja sebagai owner sekaligus 3D artist yang bertanggung jawab atas penciptaan dunia 3D dalam game, termasuk karakter dan lingkungannya. Dia didukung oleh tim yang terdiri dari programmer, animator, builder, illustrator, dan UI/UX artist.

Meskipun menghadapi tantangan waktu karena proyek ini merupakan bagian dari skripsi yang harus diselesaikan dalam enam bulan, Nanda berhasil mengelola tugas ganda tersebut dengan baik.
“Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengelola waktu antara kuliah dan mengembangkan game ini. Tapi, saya berusaha mengatasinya dengan disiplin dan fokus pada prioritas,” tambahnya.
Dalam menciptakan dunia 3D dan karakter dalam game, Nanda membuat model 3D sendiri menggunakan aplikasi Blender. Musik gamelan yang digunakan dalam game ini dipesan melalui layanan Fiverr.
Untuk memastikan akurasi budaya, Nanda melakukan penelitian mendalam dengan berdiskusi bersama budayawan seperti Ki Sakti Mahardika, Ki Bekti Rengga, dan Denny Krisna Ananda.














