BUKAN IBU, INI YANG BERTANGGUNG JAWAB MENAFKAHI ANAK SAAT AYAHNYA MENINGGAL

TERPENTING, TALI SILATURAHMI HARUS TETAP TERJAGA

Di sisi lain, ahli waris dari suami tidak diberatkan dengan tuntutan yang tidak lazim. Sehingga kedua belah pihak sama-sama tidak dirugikan dan tali silaturahmi antar keluarga tetap baik meski ayah si anak telah meninggal.

Ketiga, hal-hal di atas berlaku saat anak yatim tersebut kekurangan secara finansial dan usianya masih belum dewasa.

Hal ini seperti firman Allah swt dalam Al-Qur’an:

 

وَابْتَلُوا الْيَتٰمٰى حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَۚ فَاِنْ اٰنَسْتُمْ مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوْٓا اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ ۚ وَلَا تَأْكُلُوْهَآ اِسْرَافًا وَّبِدَارًا اَنْ يَّكْبَرُوْا ۗ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۚ وَمَنْ كَانَ فَقِيْرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ فَاِذَا دَفَعْتُمْ اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ فَاَشْهِدُوْا عَلَيْهِمْ ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ حَسِيْبًا

WABTALUL-YATÂMÂ ḪATTÂ IDZÂ BALAGHUN-NIKÂḪ, FA IN ÂNASTUM MIN-HUM RUSYDAN FADFA‘Û ILAIHIM AMWÂLAHUM, WA LÂ TA’KULÛHÂ ISRÂFAW WA BIDÂRAN AY YAKBARÛ, WA MANG KÂNA GHANIYYAN FALYASTA‘FIF, WA MANG KÂNA FAQÎRAN FALYA’KUL BIL-MA‘RÛF, FA IDZÂ DAFA‘TUM ILAIHIM AMWÂLAHUM FA ASY-HIDÛ ‘ALAIHIM, WA KAFÂ BILLÂHI ḪASÎBÂ

“Ujilah anak-anak yatim itu (dalam hal mengatur harta) sampai ketika mereka cukup umur untuk menikah. Lalu, jika menurut penilaianmu mereka telah pandai (mengatur harta), serahkanlah kepada mereka hartanya. Janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menghabiskannya) sebelum mereka dewasa. Siapa saja (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan siapa saja yang fakir, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang baik. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Cukuplah Allah sebagai pengawas.” (QS an-Nisa: 6).

Hal ini juga diatur dalam hadis Rasulullah SAW

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Artinya, “Aku dan orang yang mengurus (menanggung) anak yatim (kedudukannya) di dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan (kedua jarinya yaitu) telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

Wallahu alam.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *