SIARINDOMEDIA.COM – Para ilmuwan baru-baru ini telah memulai pelacakan ekor paus menggunakan perangkat lunak pengenalan wajah yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI), meskipun sebenarnya yang dikenali adalah ekor unik dari paus, bukan wajahnya.
Teknologi ini mengungkapkan populasi makhluk laut ini mengalami penurunan sebesar 20% di Samudra Pasifik Utara selama dekade terakhir. Para peneliti mengaitkan penurunan ini dengan perubahan iklim sebagai salah satu penyebabnya.
Para Ilmuwan menggunakan perangkat lunak pendeteksi gambar yang didukung oleh AI untuk menganalisis lebih dari 200.000 foto paus bungkuk yang diambil antara tahun 2001 hingga 2022.
AI tersebut dilatih untuk mengenali ciri-ciri unik pada sirip punggung paus, seperti tanda-tanda khusus, variasi pigmen, bekas luka, dan ukuran secara keseluruhan.
Ciri-ciri ini berfungsi seperti sidik jari khusus untuk setiap paus. Hasil dari pencocokan foto berhasil digunakan untuk memperkirakan populasi paus bungkuk dari waktu ke waktu.
Gambar ekor paus, yang diambil oleh para ilmuwan dan pengamat paus, disimpan oleh organisasi nirlaba bernama HappyWhale, salah satu organisasi terbesar yang pernah dibangun untuk mamalia laut.
HappyWhale juga mendorong para netizen untuk mengambil foto paus yang mereka temui dan mengunggahnya ke basis data mereka yang terus berkembang. Foto-foto itu mencakup data dan lokasi di mana paus tersebut ditemukan.

Dari sana, pengguna dapat melacak paus yang mereka foto dan berkontribusi pada kumpulan data yang membantu peneliti memahami lebih akurat populasi dan pola migrasi spesies ini.
Sebelum adanya metode yang dibantu oleh AI ini, para ilmuwan harus memeriksa foto-foto ekor paus secara individu untuk menemukan kesamaan dengan mata yang sudah dikenali, suatu proses yang memakan waktu dan melelahkan.
Namun sekarang teknologi AI pencocokan gambar mempercepat proses ini, memberikan lebih banyak waktu bagi para ilmuwan dan peneliti untuk menyelidiki perubahan dalam data populasi paus.
Dengan adanya algoritma semacam ini, proses pengumpulan informasi menjadi lebih cepat, dan diharapkan dapat mempercepat rencana tindakan untuk kembali menyeimbangkan populasi paus di lautan.
Ini juga berhubungan dengan perubahan iklim, yang menambah urgensi perlindungan terhadap spesies paus.














