SIARINDOMEDIA.COM – Masih belum jelasnya solusi untuk mengatasi persoalan pelik yang kini dialami para pengusaha Pertamina Shop (pertashop) membuat mereka terus bersuara. Para pengusaha retail BBM jenis pertamax ini menunggu langkah nyata penyelamatan dari Pertamina agar usaha mereka dapat terselamatkan. Apalagi investasi yang sudah dikucurkan tidaklah kecil.
Hal itu diungkapkan Budi Santoso, Ketua Himpunan Pengusaha Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) Malang Raya.
Menurutnya, langkah nyata ini sangat dibutuhkan mengingat para pengusaha pertashop terus merugi karena tidak imbangnya pendapatan dengan biaya operasional.
Namun demikian, dia tetap mengapresiasi Pertamina Patra Niaga MOR V Area Malang Raya yang sudah bersedia memfasilitasi pertemuan dengan tenant non NFR pada Pertashop Day beberapa waktu lalu.
Hanya saja, dalam pertemuan tersebut tetap tidak ada kejelasan upaya nyata Pertamina untuk menyelamatkan para pengusaha pertashop.
“Kalau tindak lanjutnya mengucurkan modal tambahan, ya berat. Bahkan kontra produktif dengan pengusaha pertashop yang saat ini untuk bayar cicilan bank saja sedang mengalami kesulitan,” kata Budi.
Tak hanya itu, lanjutnya, banyak dari rekan-rekannya yang terpaksa harus menjual aset seperti mobil dan tanah untuk menutupi angsuran di bank. Sehingga sodoran solusi menambah modal dari kocek pribadi untuk menyelamatkan usaha, merupakan hal yang nyaris mustahil dilakukan.
Karena itu yang diperlukan sekarang adalah langkah konkrit dari Pertamina untuk bantuan kepada pengusaha pertashop dalam tahap penyelamatan.
“Program NFR (Non Fuel Retail, red) bagi pertashop yang penjualannya bagus memang bisa menambah income. Tapi bagi pertashop yang penjualannya jelek malah jadi beban tambahan. Beban psikologis juga beban finansial,” keluhnya.
Sebagai informasi, sejak naiknya harga pertamax, jenis BBM yang hanya boleh dijual pertashop, para pengusaha pertashop menjerit karena seretnya penjualan. Bahkan tak sedikit yang terancam gulung tikar.
Kesenjangan harga antara pertalite dengan pertamax merupakan biang penyebabnya. Jika sebelumnya selisih harga hanya sekitar Rp2.000 an, kini mendekati Rp3.000. Pertalite dijual Rp10.000 sementara pertamax Rp12.950.
Selisih harga itulah yang membuat pelanggan enggan membeli pertamax di pertashop dan lebih memilih pertalite yang juga banyak dijual di pinggir-pinggir jalan. Hal ini tentu berimbas pada sulilrnya memenuhi target penjualan minimum 400 liter/hari untuk sekedar menutup biaya operasional. Jika penjualan seret atau kurang dari itu, dipastikan pengusaha akan merugi.
Sebenarnya ada solusi untuk membuat para pengusaha pertashop bertahan, yakni Pertamina memberi izin pertashop untuk menjual pertalite subsidi. Izin itu akan sangat membantu pengusaha pertashop menutup target minimal penjualan sehingga juga dapat menutup biaya operasional. (*)














atau pertashop boleh menjual Pertalite non subsidi(RON 90-91) sgn harga 11.500-12.000