PEGIAT INDUSTRI OLAHRAGA MALANG GAGAS INDUSTRI SEPAK BOLA BERBASIS KOPERASI

SIARINDOMEDIA.COMĀ – Para pegiat industri olahraga Malang menggelar pertemuan perdana untuk membicarakan gagasan terkait industri sepak bola berbasis koperasi di Magna Cafe, Selasa (16/1/2024).

Dalam kesempatan ini dihadiri langsung oleh Pembina Askot PSSI Malang, Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Bisri, MS., Pengusaha Muda, Abimanyu, pegiat industri olahraga Malang, Wahyu Eko Setiawan, Direktur Siarindo Media, Abdul Muntholib hingga perwakilan media Java Satu, Saiful.

Pertemuan ini membahas mengenai bagaimana melahirkan atau membuat klub sepak bola baru kebanggaan warga Malang Raya dengan berbasis koperasi.

“Sekarang kita mau ngomong fair. Arema AI punya siapa? Aremania? Bukan. Arema FC punya Aremania? Bukan. Kemudian, Persema 1953 punya siapa? Bukan punya warga Kota Malang,” ujar Wahyu.

“Lha kita mencoba satu kekuatan (sistem) baru, satu klub baru, mungkin landasannya nanti kita pikirkan bersama, yang itu sah secara legitimasi (hukum),” imbuh pria yang akrab disapa Sam Wes tersebut.

Lebih lanjut, Sam Wes mengurai bahwa sejauh ini sistem kepemilikan klub di Indonesia hanya menganut pada sistem Perseroan Terbatas (PT) di bawah komisaris.

Namun khusus gagasan ini, kata Sam Wes menggunakan sistem koperasi yang bisa dimiliki oleh orang banyak.

“Kalau kita bahas ini soal (sistem koperasi) perkumpulan itu relatif homogen,” ujar Sam Wes.

“Padahal sepak bola itu kan masyarakat (supporter) heterogen; ada yang mancing, ada yang suka burung, ada yang suka sepeda tapi sama-sama suka sepak bolanya,” sambungnya.

“Lha, itu yang cocok adalah role model badan hukumnya koperasi. Karena setiap orang siapa pun itu punya hak menjadi anggota koperasi,” imbuhnya.

PERBAIKI SISTEM KLUB. Direktur Siarindo Media, Abdul Muntholib (kiri) bersama pegiat industri olahraga Malang, Sam Wes. Foto: Izzuddin

Jurnalis Java satu tersebut menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan bukan untuk menanggalkan klub-klub legendaris seperti Arema dan Persema, melainkan ikhtiar untuk memperbaiki sistem managerial klub yang semakin anjlok.

“Apakah kita harus buat klub baru? Tidak ada Persema tidak ada Persema. Munculkan satu klub baru, kebanggaan baru yang mana itu bisa mengangkat tanpa melupakan sejarahnya,” kata Sam Wes.

“Bikin (klub) baru itu bukan untuk menutupi (sejarah). Tapi ya sudah dari pada kita berpolemik dan sebagainya mungkin ada yang salah kita buat sistem baru saja,” tutupnya.

Mengenai gambaran detail gagasan ini, akan terus disempurnakan dengan menggalakkan diskusi, komunikasi dan saran dari para ahli di bidangnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *