PANGKAS BIAYA OPERASIONAL, SPOTIFY PHK RIBUAN KARYAWAN

SIARINDOMEDIA.COM – Spotify awal pekan ini mengumumkan mem-PHK 1.500 karyawan. Pemutusan hubungan kerja hampir 17% dari 9.000 tenaga kerjanya tersebut merupakan yang ketiga kalinya dilakukan Spotify tahun ini. Kendati mengantongi laba kuartal ketiga sebesar USD71 juta, perusahaan raksasa streaming musik tersebut menyatakan harus melakukan PHK ribuan karyawan demi memangkas biaya operasional di tengah perlambatan ekonomi global saat ini.

CEO Spotify, Daniel EK, dalam nota singkat kepada para karyawannya, menyatakan bahwa pengurangan 1.500 karyawan itu diperlukan untuk membuat perusahaan lebih ramping, efisien serta “sesuai dengan tantangan di masa depan”.

Dia mengatakan kebijakan tersebut adalah pilihan terbaik bagi perusahaan.

“Meski saya yakin ini adalah tindakan yang tepat bagi perusahaan, saya juga memahami bahwa (PHK) ini akan sangat menyakitkan bagi tim kami,” terangnya.

“Saya menyadari ini akan berdampak pada sejumlah individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa. Banyak orang pintar, berbakat dan pekerja keras yang akan meninggalkan kita,” Ek menambahkan.

Bos Spotify itu mengakui besarnya jumlah karyawan yang di-PHK akan sangat mengejutkan mengingat pendapatan dan kinerja perusahaan yang sangat positif belakangan ini. Pada kuartal Juli-September saja Spotify membukukan keuntungan yang meningkat USD349 juta dibanding periode yang sama tahun 2022.

Namun karena gap yang semakin besar antara tujuan keuangan perusahaan dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan, Ek menegaskan mau tidak mau pemangkasan karyawan harus dilakukan.

Biaya keseluruhan operasional Spotify sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai USD3,45 miliar.

Karyawan yang diberhentikan akan menerima pesangon lima bulan gaji, tergantung aturan ketenagakerjaan setempat dan pertimbangan masa kerja. Cuti liburan dan tunjangan kesehatan yang belum dipakai akan ditambahkan di pesangon yang mereka terima.

Mereka yang di-PHK juga akan menerima bantuan untuk mencari pekerjaan baru serta layanan penempatan luar selama dua bulan.

PHK yang dilakukan pada awal Desember ini menjadikan jumlah karyawan yang dipangkas Spotify mencapai 2.300 sepanjang 2023. Sebelumnya, pada Januari lalu, Spotify memberhentikan 600 orang atau sekitar 6% dari total karyawannya. Alasannya pun sama, kenaikan biaya operasional lebih cepat dibanding pendapatan, bahkan mencapai kisaran 2:1.

Sementara pada bisnis podcast-nya, Spotify juga mengurangi jumlah karyawannya. Perusahaan yang bermarkas di Stockholm, Swedia, itu pada bulan Juni lalu memberhentikan 200 pekerjanya untuk menata ulang strategi bisnisnya.

Podcast di Spotify
SEGMEN BISNIS MENGGIURKAN. Podcast di Spotify kian diminati masyarakat, termasuk di Indonesia. Foto: Keke Genio/YouTube

Yang mengherankan, kebijakan tersebut diambil justru ketika pendengar podcast Spotify dilaporkan melonjak 1.400% sejak perusahaan streaming tersebut meningkatkan fokusnya pada produksi podcast. (TON)

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *