SIARINDOMEDIA.COM – BlackBerry sempat menguasai pasar ponsel pintar di seluruh dunia, termasuk di negara kita. Namun di tahun 2010an, ponsel idaman ini kalah bersaing dan perlahan menghilang dari pasar. Kurangnya inovasi serta keengganan mengikuti preferensi dan selera konsumen, disebut-sebut sebagai penyebab utama kejatuhan BlackBerry.
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, manajemen senior BlackBerry mengabaikan penelitian dan pengembangan sehingga produk mereka menjadi kurang menarik dan tidak kompetitif.
Ketidakmampuan BlackBerry beradaptasi ini membuat produsen raksasa lainnya seperti Apple dan Samsung, plus produsen-produsen ponsel asal Tiongkok, bergerak cepat mengambil alih pasar.
Steve Jobs, mantan CEO Apple, mengakui iPhone dirancang khusus untuk ‘menghancurkan’ BlackBerry. Pengakuan itu dilakukannya terang-terangan dengan memperlihatkan gambar salah satu BlackBerry di peluncuran iPhone generasi pertama.
Saat itu, Jobs – meninggal 5 Oktober 2011 – dengan setengah menghina menunjukkan tampilan BlackBerry yang dianggapnya ‘norak’ dan jadul.
“Lihat keyboard ini. Sangat mengganggu. Selalu muncul bahkan ketika tidak sedang dibutuhkan,” ujarnya.
Yang dimaksud Jobs tentu saja keyboard QWERTY yang memakan tempat hampir separuh ponsel BlackBerry. Keyboard fisik ini tidak memberikan performa full screen yang nyaman bagi konsumen.
Menurut Jobs, harusnya keyboard muncul saat dibutuhkan saja. Karena itu Apple meluncurkan iPhone, ponsel layar sentuh pertama mereka. Apple menggunakan sistem operasi telepon genggam iOS dan memperbaharui sistem tersebut di produk-produk iPhone berikutnya.

Langkah Apple ini diikuti produsen ponsel lainnya dengan mengembangkan Android, sistem operasi berbasis Linux dengan kode sumber terbuka berlisensi Apache 2.0.
Kedua sistem operasi ini muaranya sama, yakni memanjakan pengguna. Konsumen tinggal menyentuh, menggeser, mencubit layar ponsel mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Selain fungsi utamanya untuk menelepon, konsumen juga bisa browsing, mengabadikan gambar dan video, menonton YouTube, mengirim email, chatting, dlsb, di ponsel yang sama.
Tentu saja berbagai fitur yang memudahkan ini disambut gegap gempita. Penjualan ponsel di seluruh dunia laku keras. Hingga hari ini.
Namun ibarat raksasa berbadan tambun tapi lamban, BlackBerry gagal menangkap fenomena ini. Perusahaan yang dididirikan Mike Lazaridis dan Douglas Fregin tersebut menganggap dengan pangsa pasar yang dimiliki saat itu, BlackBerry akan tetap berada dalam pusaran persaingan di level atas.
Apalagi BlackBerry mempunyai keunggulan sistem keamanan lebih baik dibanding kompetitornya. Keamanan data pengguna menjadi keunggulan BlackBerry kala itu.
Hanya saja konsumen tetap cenderung lebih menyukai kepraktisan dan kenyamanan. BlackBerry memiliki kekurangan yang cukup fatal, yakni lemot. Dibandingkan sistem operasi perangkat seluler pabrikan lainnya, sangat menyebalkan jika browsing di internet menggunakan BlackBerry.
Selain itu, aplikasi pada BlackBerry rata-rata memiliki User Interface yang tidak mudah untuk di gunakan (tidak user friendly). Aplikasi berbayar yang di sediakan BlackBerry cukup mahal jika dibandingkan dengan iOS atau Android.
BlackBerry sebenarnya bukan tidak berusaha membenahi kekurangan-kekurangan ini. Pada tahun 2009, perusahaan asal Kanada ini meluncurkan BlackBery Storm (BBS) 9500, ponsel layar sentuh pertamanya.

Didukung brand yang masih kuat, BBS 9500 yang menggandeng Vodafone (pasar Eropa) dan Verizon Wireless (pasar AS) awalnya laris manis. Namun karena, lagi-lagi, faktor browser yang lambat, layar sentuh yang kerap error, jaringan aplikasi yang (harus) berbayar, ponsel pintar produk BlackBerry ini menjadi tidak disukai.
Pada akhirnya, pasar adalah hakim yang paling kejam sekaligus netral. Produk yang banyak cacat dan tidak ramah konsumen, perlahan akan ditinggalkan meski pernah memiliki nama besar.
Dan itulah yang terjadi pada BlackBerry, ponsel idaman yang kini hanya bagian dari kisah kejayaan masa lalu. (TON)













