SIARINDOMEDIA.COMĀ – Berbagai upaya untuk membuat masjid sebagai tempat ibadah yang nyaman memang perlu tata kelolah tersendiri. Lewat pelatihan penguatan manajeman masjid yang merubah pola pikir takmir. Bahwa mereka adalah pelayan jamaah, bukan penguasa tempat ibadah.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. KH. Hilmi Muhammad, SE., MM., bahwa ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk program ini. Diantaranya dengan mendata jamaah masjid yang kemudian selanjutnya dapat menentukanĀ rencana kegiatannya. Hal ini tentunya harus diikuti dengan mensosialisasikan kegiatan tersebut dan membuat laporan kegiatan masjid.
“Maka perlu merubah mental takmir sebagai pelayan jamaah, bukan penguasa masjid. Dan seorang takmir itu harus bersikap peduli dan melayani,” ungkap Kiai Hilmi, Ahad (29/10).
Lebih lanjut ia menyampaikan guna menyukseskan program penguatan manajeman masjid ini maka perlu memetakan kepentingan dan kebutuhan jamaah masjid. Yakni mengenaiĀ kebutuhan orang-orang tua, pemuda dan remaja sekaligusĀ kebutuhan anak-anak. Tak lupa juga pemataan akan kebutuhan jamaah yang memiliki keterbatasan fisik maupun kaum dhuafa.
“Hal ini tentunya untuk menghargai eksistensi setiap individu jamaah,” ucapnya.
Kiai Hilmi juga membeberkan seputar strategi pelayanan di masjid. Dimana tuntutannya takmir harus jeli membidik potensi dalam masyarakat. Juga pandai melihat peluang yang ada serta cermat melihat kebutuhan masyarakat.
Ia juga menguraikan mengenai strategi pembinaan takmir masjid. Diantaranya dengan berupaya menggembirakan jamaah, seperti memberikan susu kedelai, roti, atau bubur sehabis shubuh setiap Ahad.
“Bisa juga dengan membagi-bagikan uang saku lebaran kepada setiap anak yang hadir saat halal bihalal di masjid,” tukasnya.
Dalam sisi pemberdayaan, ia juga memaparkan mengenai perlunya mengapresiasi eksistensi, menghargai dan mengarahkan segenap potensi jamaah. Serta yang tak kalah pentingnya ialah membentuk program kaderasi yang menghimpun mulai anak-anak, para remaja hingga pria dewasa dan ibu-ibu.













