SIARINDOMEDIA.COM – Berita memprihatinkan mengenai 76 siswa SMP di Magetan yang melukai diri mengundang perhatian. Salah satunya, akademisi senior ilmu Psikologi bidang perkembangan anak dari Universitas Negeri Malang (UM).
Dalam pandangan Dr. Ika Andrini Farida S.Psi., M.Psi., dosen senior Psikologi UM, hal ini lantaran masyarakat kita, tidak pernah diajari untuk memilih respons. Dalam kultur kita belum diajari untuk bertanggung jawab memilih respons, hingga diri menjadi lemah. Yakni dalam keseharian terlalu tergantung pada sikap orang lain terhadap kita.
“Kalau orang lain baik, hati saya senang, kalau orang lain buruk terhadap kita, kita jadi susah. Kebahagiaan kita menjadi tergantung dari sikap orang lain,” ungkap Ika, Sabtu (21/10/2023).
Padahal semestinya kita harus bisa memberdayakan diri, yakni dengan memilih sikap yang positif. Juga bersikap tenang ketika menjumpai situasi yang tidak mengenakan. Hingga apapun sikap orang lain terhadap kita, tetap bahagia dan tenang.
Lebih lanjut Ika menguraikan, ditilik dari perspektif psikologi perkembangan yang dilihat dari masyarakat Barat. Dimana sikap individual menjadikan orang-orang di sana selalu bersikap memberdayakan diri mereka sendiri.
Sedangkan budaya Timur, cenderung tidak memiliki kesadaran untuk memilih. Padahal manusia secara dasar telah dibekali dengan kemampuan kognitif. Termasuk pula bernalar dan berpikir.
“Jadi ketika diputus pacar, pemikiran positifnya, ya sudah saya cari yang lebih baik. Tidak justru melukai diri,” ucap Ika.
Sebagai seorang psikolog, ia menyarankan masyarakat mulai membangun paradigma positif, terutama kecenderungan menyalahkan orang lain. Ia menilai sebagian besar masyarakat lebih banyak memposisikan diri sebagai korban.
Seperti contohnya merasa menjadi korban dari kebijakan salah dari Pemerintah. Juga merasa korban dari prilaku negatif suami, atau pacar, maupun kondisi tertentu. Hingga akhirnya perasaan merasa menjadi korban ini benar-benar terjadi dan terus menerus.
Selain itu, Ika menilai tidak adanya self cofident yang kuat dalam diri generasi saat ini. Sehingga jika diperlakukan hal yang tidak mengenakan, mental mereka langsung jatuh. Sebaliknya, jika kita memandang diri sendiri berharga, maka otomatis tidak mengijinkan orang lain menyakiti diri kita.
Faktor lainya menurutnya, yaitu pengaruh buruk Media sosial yang membentuk tolok ukur sebuah kebahagiaan dari orang lain. Sedangkan capain prestasi diri sendiri malah tidak dihargai. Padahal yang dilihat di Medsos kebanyakan bukan realita sesungguhnya. Lebih banyak sekedar pencitraan semata.
Sebelumnya diberitakan sebanyak 76 siswa SMP Negeri di Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, menyayat lengannya sendiri menggunakan benda tajam. Hal tersebut berdasarkan temuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan yang melakukan screening.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan, Kepala Dinas Kesehatan Magetan dr. Rohmat Hidayat mengatakan, awalnya petugas menemukan bekas luka sayatan pada lengan salah satu siswa.
Saat mengecek seluruh siswa, ternyata ada sekitar 76 siswa yang menyayat lengannya sendiri. Alasan puluhan siswa itu menyayat lengan karena mengalami depresi dan masalah percintaan.
Atas temuan itu, akhirnya pihak Dinkes bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kemenag, Dinas PPKB. Pihak sekolah juga akan memberikan bimbingan konseling kepada puluhan siswa tersebut.













