SIARINDOMEDIA.COM – Lembaga Keterampilan dan Pelatihan (LKP) Windyas Club Malang berkolaborasi dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Al Fitrhah Malang mengeksplor potensi batik dalam event Mini Concert Awwalusunnah di Graha Cakrawala (Gracak) Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (21/9/2023).
Event yang digelar setiap tahun di awal ajaran baru ini memamerkan banyak hasil buah tangan para santri KH. Muhammad Adib Fanani. Karya batik yang dituangkan dalam bentuk tas, pakaian hingga pernak-pernik nantinya dapat dikomersilkan.

Nunuk Wijayanti, salah satu pengelola Windyas Club Malang mengutarakan bahwa untuk tahun ini hasil karya santri yang dipajang diperbolehkan untuk dijual.
“Untuk tahun ini sama Pak Kiai boleh dijual (karya batik santri). Karya seperti batik tas dijual mulai harga 50 ribu,” kata Nunuk, Kamis (21/9/2023).
Lebih lanjut, Nunuk memaparkan, bahwa proses pembuatan karya batik para santri rata-rata membutuhkan waktu hingga seharian. Jika volume barang cukup besar dalam artian tingkat kesulitannya di atas rata-rata, maka bisa menghabiskan waktu 3-4 hari bahkan satu minggu.
Di sisi lain, event Mini Concert Awwalusannah ini juga diisi dengan penampilan para santri Ponpes Assalafi Al Fithrah Malang mulai santri Paud hingga SMK. Meski masih terhitung muda, hasil karya batik para santri patut diapresiasi dan diberi harga mahal.
Beberapa corak dan bentuk karya batik para santri yang dipajang di selasar halaman Gedung Gracak UM tampak minimalis. Namun dengan desain tersebut, karakter setiap karya batik mudah dikenali dan tidak secara langsung menjadi ciri khas para santri Ponpes yang berada di Kepanjen tersebut.
Sementara itu, Amelia Agustin, salah satu santriwati kelas 11 SMK Assalafi Al Fithrah Malang menjelaskan bahwa pentas seni yang mengangkat tema Bhineka Nuswantara ini baru digelar selama dua kali dan kesemuanya diselenggarakan di Graha Cakrawala UM.
“Acara pentas seni Awwalusannah ini baru digelar dua tahun,” ungkap Amel.
“Persiapan acara ini kurang lebih selama tiga bulan,” sambungnya.

Lebih jauh lagi, Nunuk berharap, melalui event ini spirit eksplorasi batik kepada para santri bisa dikembangkan lebih jauh lagi ketika para santri sudah menjadi alumni.
“Terutama untuk anak-anak, ya, ketika nanti (para santri) keluar dari pondok kan bisa buat sendiri. Bisa menghasilkan sesuatu khususnya santri putri,” ucap Nunuk.
“Kalau pun ada nanti sambil momong pas anak tidur bisa sambil mbatik nanti bisa dijual sehingga menambah income keluarganya. Terus budaya batik agar tidak hilang,” pungkas adik pendiri Windyas Club Malang tersebut.













