SIARINDOMEDIA.COM – Sudah satu dekade lebih dua bersaudara Endahing Noor Wulandari dan Endahing Noor Suryanti mendirikan komunitas pengrajin bahan kriyak tekstik di Malang Raya. Co-Founder komunitas Pelangi Nusantara (Pelanusa), Endahing Noor Wulandari, menyampaikan bahwa memiliki idealisme dalam menghasilkan sebuah produk adalah poin yang paling penting dalam menjaga eksistensi komunitas tersebut.
“Mengikuti pola atau standarnya Pelanusa itu memang kita kadang-kadang katanya harganya (barang) di Pelanusa itu mahal. Lho iya memang. Istilahnya dalam Bahasa Jawa; ‘ono rupo ono rego’,” ucap Wulan.
“Itu yang kita jaga gitu loh. Ga papa ini semua (desain produk) itu ditiru silakan, dijiplak silakan, tapi Teknik jaitnya kan beda. Justru kalau ditiru, dijiplak oleh orang lain, artinya apa? Produk itu bagus,” imbuhnya.
Lebih lanjut Wulan memaparkan, sejak mendirikan Pelanusa, anggota yang keluar masuk sudah menjadi hal biasa. Mereka yang keluar karena merasa sudah tidak membutuhkan ilmu dari Pelanusa tidak pernah Wulan cegah dan larang. Sebab baginya, Pelanusa akan tetap berdiri dengan idealisme yang dijaga melalui produk-produk original.
“Keluar masuk itu sudah biasa. Biasanya mereka keluar karena tidak bisa mengikuti SOP yang kita terapkan. Kenapa saya menerapkan SOP, karena pada saat Pelanusa dapat orderan banyak, misalnya 100, 200 bahkan 1000, yang mengerjakan 10 orang 20 orang, kalau ga ada SOP ya bakal tidak sama hasilnya,” tegasnya.

Lebih jauh lagi, Wulan menuturkan jenis barang-barang yang dibuat oleh Pelanusa adalah barang homedek seperti sarung bantal, taplak meja, bad cover, hiasan dinding dan soft furniture lainnya serta fesyen aksesoris semacam dompet, tas hingga kalung.














