SIARINDOMEDIA.COMÂ – Andrina Wijayaningsih, spesialis komunitas perempuan mandiri sumber perubahan (Preman Super) menyampaikan pentingnya digital marketing bagi pelaku UMKM.
Pada kesempatan diskusi Pajak UMKM dan digital marketing bersama tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (PKM UM), wanita yang akrab disapa Bu Ina tersebut memberi edukasi terkait aplikasi media sosial kepada anggota komunitas Preman Super.
Ina, seperti halnya ibu-ibu rumah tangga yang identik dengan hal-hal konvensional kini tampak berbeda, dia tampak lancar saat menjelaskan bagaimana algoritma media sosial berkerja.
“Dampaknya (media sosial) itu sekarang sangat besar sekali,” kata Ina kepada reporter Siarindo Media saat dijumpai selepas agenda diskusi.
“Karena kalau kita ndak belajar (media) online itu pasti akan tertinggal,” sambungnya.
Di sisi lain, alumni SMKN 3 Malang tersebut merupakan content creator di 4 akun Instagram, 5 akun Facebook, 5 akun TikTok dan 3 akun YouTube. Dari situ, ia menggeluti media sosial selama bertahun-tahun. Lebih tepatnya 14 tahun.
Menurutnya, media sosial khususnya TikTok, cukup efektif untuk membranding dan menjual produk UMKM kepada masyarakat luas.
“TikTok itu yang sangat populer. Jadi untuk yang gampang viral, yang gampang diterima masyarakat umum. Itu sekarang adalah TikTok,” papar Sekretaris Preman Super tersebut.
Memang tidak mudah, ungkap Ina, memberikan edukasi terkait media sosial kepada para pelaku UMKM yg mayoritas generasi “lama”. Namun baginya, hal tersebut adalah challenge tersendiri yang harus dihadapi.
Lebih lanjut, Founder Nurinka Digital Malang tersebut menuturkan bahwa perbandingan antara branding menggunakan cara digital marketing dan konvensional sangatlah berbeda. Baik secara efektivitas waktu maupun tenaga.
“Sekarang offline itu ada kelebihan dan kekurangannya. Online pun juga ada kelebihan dan kekurangan. Sama,” kata Ina.
“Tapi kalo yang (cara) offline ini kita hanya menunggu ada orang datang atau pelanggan beli, kalo kita sendiri ga bilang atau memasarkan itu, kan orang ga akan tau kita jualan apa,” sambungnya.
“Umpamanya kita (jualan cara) offline, nunggu. Orang yang lewat di depan rumah kita atau di depan outlet kita itu tidak semuanya melihat ke outlet. Kalau seandainya (jualan cara) online, online ini pemasarannya lebih luas lagi,” tambahnya.
Ina berharap, ke depannya para pelaku UMKM semakin care terhadap tuntutan zaman yang semakin canggih agar usaha mereka bisa beradaptasi dengan dunia yang serba cepat ini.
“Semakin kita sering mensosialisasikan tentang ‘Ayo bikin konten yuk’ gitu, mereka juga akan bilang ‘ibu itu aja bisa kenapa aku ndak’, gitu loh,” pungkas Ina.














