SIARINDOMEDIA.COM – Pernah menjadi stadion dengan rata-rata kapasitas penonton terpadat di Indonesia, Stadion Kanjuruhan kini mati suri. Tak lagi ada pertunjukkan kolosal sepak bola dengan hingar bingar penonton di dalamnya. Tragedi tahun lalu tak hanya merenggut ratusan nyawa, tapi juga denyut ‘kehidupan’ di stadion kebanggaan warga Malang tersebut.
Stadion Kanjuruhan memiliki banyak keistimewaan. Selain menjadi salah satu stadion terbesar di Jawa Timur, stadion ini juga menjadi home base Arema, klub bola dengan basis suporter militan.
Tak heran jika Stadion Kanjuruhan kerap menjadi sorotan penggila bola di tanah air karena seringnya tayangan langsung pertandingan bola di stadion ini. Terutama ketika Arema menjamu tim-tim besar dengan reputasi mentereng. Big Match.
Di antara sekian big match, bertemu musuh bebuyutan Persebaya Surabaya adalah yang paling menyedot perhatian. Pertarungan dua tim raksasa Jatim itu selalu beraura panas, penuh gengsi dan bersejarah.

“Boleh kalah dengan tim lain, asal jangan dengan Persebaya,” demikian ujaran yang cukup populer di kalangan Aremania. Lebih-lebih jika menjadi tuan rumah.
Demikian pula sebaliknya dengan Bonek, suporter Persebaya, yang meng’haramkan’ tim kesayangannya kalah dengan rival abadinya tersebut.
Keyakinan dan ekspektasi meraup tiga poin saat suporter berangkat dari rumah menuju stadion, berbalik menjadi kekecewaan luar biasa ketika tim yang didukungnya justru takluk.
Ini pula yang terjadi pada laga kontra Persebaya di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022. Sejumlah Aremania yang tak puas dengan hasil akhir, kalah tipis 2-3 dari tim tamu, merangsek ke dalam lapangan usai pertandingan. Aksi ini segera saja diikuti puluhan suporter lainnya.

Merasa situasi tidak kondusif, aparat kemudian berusaha menghalau mereka agar kembali ke tribun penonton. Tindakan pengamanan ini masih terhitung wajar sampai tiba-tiba ada sekelompok aparat yang menembakkan gas air mata bertubi-tubi ke arah tribun penonton.
Karuan saja penonton yang sebagian di antaranya anak-anak dan kaum hawa panik. Apalagi pintu keluar dalam keadaan terkunci dari luar. Banyak yang kemudian menjadi korban, mulai dari terinjak-injak, tertindih, hingga kesulitan bernafas karena pekatnya gas air mata.

135 orang dinyatakan meninggal dunia akibat insiden yang dikenal dengan Tragedi Kanjuruhan tersebut. Insiden ini sekaligus membuat Stadion Kanjuruhan ditutup untuk kegiatan sepak bola apa pun. Laga-laga kandang Arema juga dipindah ke stadion lain.
Hampir 10 bulan berlalu setelah Tragedi Kanjuruhan. Aktivitas di stadion yang diresmikan penggunaannya pada 9 Juni 2004 oleh Presiden Megawati itu berhenti total. Tak ada lagi sorak sorai atau jubelan penonton bola di sana.
Stadion Kanjuruhan mati suri!
Hal ini membuat stadion berkapasitas 45 ribu penonton itu kian tak terawat. Rumput tinggi dan sampah berserakan membuat Stadion Kanjuruhan tampak mengenaskan.

Seolah tak menyisakan citra bahwa stadion ini pernah menjadi stadion kebanggaan warga Malang. Stadion yang penuh kenangan deraian air mata duka bercampur kebahagiaan Aremania.
Sang Waktu juga seolah enggan beranjak pasca tragedi. Selain tak terawat dan awut-awutan di dalam stadion, kios-kios yang mengitarinya tetap dibiarkan dalam kondisi kumuh, rusak dan ditaburi coretan bernada kemarahan atas ketidakjelasan penanganan tragedi yang berujung pada terenggutnya ratusan nyawa tersebut.
Para pemilik kios tak hanya dihantui trauma atas Tragedi Kanjuruhan, tapi juga memang sudah tidak ada aktivitas apa pun semenjak stadion ditutup pasca insiden yang mengundang keprihatinan dunia sepak bola internasional tersebut.

Sebagai informasi, Tragedi Kanjuruhan adalah tragedi paling berdarah kedua sepanjang sejarah sepak bola setelah peristiwa Estadio Nacional Peru yang menewaskan 328 jiwa di laga tuan rumah melawan Argentina di tahun 1964.
Usai kejadian, sesungguhnya ada rencana untuk merobohkan Stadion Kanjuruhan dan membangunnya kembali sesuai standar FIFA. Hal itu ditegaskan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Presiden FIFA Gianni Infantino di Istana Merdeka, Selasa, 18 Oktober 2022.
“Tadi saya juga menyampaikan dan FIFA mengapresiasi Stadion Kanjuruhan di Malang juga akan kita runtuhkan dan kita bangun lagi sesuai dengan standar FIFA,” ujar Jokowi kala itu.
“Kedua juga berkaitan dengan manajemen keamanan, manajemen security, juga kita bicarakan secara detail. Yang ketiga berkaitan juga dengan manaemen pertandingan utamanya tentang pengaturan waktu,” imbuh Presiden.

Namun rencana tinggal rencana. Tak jelas juntrungan dan kelanjutannya. Pasalnya, hingga kini tidak ada tanda-tanda stadion yang pembangunannya menelan biaya lebih dari Rp35 milyar itu bakal direhab ulang.
Stadion Kanjuruhan pun tetap seperti sedia kala. Bahkan saat reporter Siarindo Media ke sana dan hendak mengambil gambar secara utuh area di dalam stadion, tidak diperkenankan.
“Mohon maaf, Mas. Belum boleh masuk (ke dalam stadion). Instruksi dari atas,” demikian kata seorang pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Malang yang kantornya berada di samping pintu utama stadion.

Karena tidak diijinkan, foto gambar stadion terpaksa diambil dari sela-sela pintu pagar yang tergembok.
Ketidaktahuan akan nasib Stadion Kanjuruhan ke depannya juga tergambar dari respon pegawai tersebut ketika ditanya tentang apa yang sudah dan akan dilakukan terhadap stadion tersebut.
“Nggak tahu, Mas. Dengar-dengar sih memang ada rencana membangun ulang stadion ini sesuai standar FIFA. Tapi sampai sekarang masih begini-begini saja. Belum ada tindak lanjutnya. Eman-eman sebenarnya kalau terlalu lama dibiarkan mangkrak seperti ini,” ujarnya.
Untungnya kompleks stadion yang cukup luas masih bisa dimanfaatkan cabang olahraga lainnya. Sepatu roda, misalnya. Cabor di bawah Perserosi Kabupaten Malang ini masih bisa memanfaatkan track di sisi utara stadion untuk kegiatan rutin latihan.

Di luar sepatu roda, beberapa cabor lainnya secara berkala juga beraktivitas di sekitaran kompleks stadion. Beberapa di antaranya adalah fun boxing wanita, binaraga, renang, basket outdoor, dlsb.
Pun demikian dengan sejumlah warung makanan dan warung kopi yang bisa ditemui di kompleks stadion. Mereka tetap buka dan melayani pembeli seperti biasanya.
Namun bagaimana pun juga, tak dapat dipungkiri sepak bola adalah magnet utama dari stadion megah yang berlokasi di wilayah Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, itu. Tanpa drama kolosal di lapangan hijau yang disaksikan puluhan ribu pasang mata, Stadion Kanjuruhan tak ubahnya sekedar kompleks bangunan fisik biasa.
Bangunan fisik itu kini terasa hambar seiring pudarnya deraian air mata kesedihan, luapan tangis kegembiraan, gema yel-yel penyemangat, pisuh-pisuhan yang bikin ciut nyali lawan. Dan kesemuanya itu berbaur menjadi satu di dalam stadion.
Singo Edan pun termangu dalam senyap seiring senyapnya stadion yang pernah mengglorifikasikan dirinya.

Stadion Kanjuruhan, riwayatmu kini…













