NASIB MONUMEN PERJUANGAN DI KOTA MALANG

By: Restu Respati

SIARINDOMEDIA.COM – Monumen adalah jenis bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu. Sehingga monumen dibangun dengan tujuan untuk dijadikan kenangan atau bagian dari masa bersejarah.

Plakat mengenang jasa pahlawan
JAS MERAH. Plakat untuk mengingatkan jasa-jasa para pahlawan. Foto: Ist/Restu Respati

Monumen juga seringkali didedikasikan untuk tentara yang berperang dalam perang tertentu atau orang yang dihormati. Sehingga setiap kali monumen dibuat, mereka berusaha memastikan bahwa seseorang atau peristiwa tersebut diingat.

Pengertian monumen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), monumen adalah bangunan dan tempat yang memiliki nilai sejarah penting, oleh karena itu dipelihara dan dilindungi oleh Negara.

Dari beberapa pengertian diatas, kita menjadi paham arti, fungsi, dan pentingnya dibangunnya sebuah monumen.

Patung sebagai monumen juga berfungsi sebagai memori kolektif. Memori merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan manusia, memori yang terekam oleh manusia akan menjadi gambaran hidup seseorang dan akan membentuk karakter seseorang.

Patung Monumen berfungsi juga sebagai alat menjaga Nasionalisme. Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air. Patung Monumen merupakan objek kuat yang mampu menggabungkan memori kolektif dan nasionalisme. Sehingga pemerintah mendirikan monumen patung untuk terus menjaga keutuhan nasionalisme di setiap wilayah Indonesia.

Kota Malang memiliki banyak monumen, terutama monumen berupa patung tokoh penting seperti pahlawan maupun simbol penting untuk memperingati suatu peristiwa penting atau bersejarah. Patung monumental memiliki fungsi untuk mengenang para pahlawan yang telah berjasa kepada negara serta sebagai monumen untuk mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah di suatu daerah.Grafis Monumen Perjuangan

Kita ambil contoh Monumen Chairil Anwar yang berada di Kayutangan, Jalan Basuki Rahmad, Kota Malang. Patung monumen ini dibangun sebagai peringatan untuk menghormati Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan ’45 dalam Sastra Indonesia sekaligus Puisi Modern Indonesia, dan untuk menghargai jasa Chairil Anwar yang ikut memperjuangkan kemerdekaan RI. Disamping itu juga untuk mengenang Chairil Anwar yang pernah datang ke Malang.

Sayangnya Patung Monumen Chairil Anwar itu kini terhalangi oleh Monumen Lokomotif Lori yang yang baru ditempatkan di lokasi yang sama dan jaraknya sangat berdekatan. Ketenaran Chairil Anwar “Si Binatang Jalang” seolah meredup karena secara ukuran lebih kecil dibandingkan Monumen Lokomotif Lori yang ‘mentereng’dan ‘ngejreng’ warnanya.

Belum mereda hiruk-pikuk Monumen Chairil Anwar yang seolah terpinggirkan oleh adanya Monumen Lokomotif Lori yang dianggap salah oleh warga Kota Malang dalam hal penempatan dan jenis lokonya yang seharusnya Lokomotif Trem sesuai dengan kesejarahan Kayutangan, kini muncul lagi berita bahwa Monumen TGP yang berada di Jalan Semeru Kota Malang akan digeser (dipindah) letaknya. Disebutkan bahwa pergeseran monumen TGP itu untuk merespons penyesuaian kebijakan rekayasa lalu lintas di kawasan Kayutangan Kota Malang, dan sekitarnya.

Lokasi baru Monumen TGP setelah dipindah sampai saat ini juga belum diketahui oleh warga Kota Malang. Tapi yang patut diingat adalah Monumen TGP tersebut sarat dengan kesejarahan Malang. Salah dalam penempatan lokasi dapat memutus rantai kesejarahan TGP Malang. Untuk itu ada baiknya mengetahui sejarah dari TGP Malang.

A. Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) Malang

Monumen Tentara Genie Pelajar Malang atau disebut juga Monumen TGP Malang terdiri dari dua patung pejuang TGP sedang membawa senjata api dan mortir. Berdiri di persimpangan Jalan Tangkuban Perahu dan Jalan Semeru Kota Malang, keberadaan patung ini sangat menarik perhatian siapa saja yang melintasinya. Lokasinya juga sangat strategis karena berdekatan dengan Stadion Gajayana Malang.

Monumen TGP Kota Malang
API DAN MORTIR. Monumen TGP di Kota Malang. Foto: Ist/Restu Respati

Monumen ini dibangun sebagai pengingat perjuangan TGP, dan merupakan tugu peringatan atas gugurnya para pejuang kemerdekaan dari kesatuan TGP saat berlangsung Agresi Militer Belanda. Monumen didirikan pada tanggal 17 Juli 1989. Pada bagian bawah monumen terdapat nama-nama anggota TGP yang gugur sebanyak 61 orang sejak 1945 hingga 1949.

Monumen TGP berdiri di lokasi tersebut bukan tanpa sebab. Monumen TGP didirikan di depan Gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Cendika YPK di Jalan Semeru nomor 42 Kota Malang. Gedung ini menjadi saksi sejarah berdirinya Tentara Genie Pelajar (TGP) pada tahun 1947. Gedung ini menjadi saksi perjuangan para tentara pelajar pada masa revolusi fisik memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sebuah prasasti yang berada di gedung utama menjadi bukti keberadaan TGP. Pada lorong koridor utama bangunan, terdapat prasasti dengan logo TGP yang terdiri dari bintang, arca Ganesha, padi-kapas, pelita, roda gigi senapan dan bulu sebagai lambang pena. Sedangkan di sebelah kiri lorong terukir prasasti yang bertuliskan, “Di tempat ini pada tgl 2 Pebruari 1947 terbentuk T.G.P. (Tentara Genie Peladjar) sebagai kelanjutan perjuangan Pelajar Tehnik Jawa Timur – Jawa Tengah – Jawa Barat, tahun 1945”.

TGP merupakan kesatuan yang terdiri dari pelajar Sekolah Teknik, antara lain Sekolah Menengah Teknik Tinggi (SMTT), Sekolah Teknik (ST), Sekolah Radio, dan Sekolah Pertukangan. Meskipun umur anggotanya baru belasan tahun dan masih berstatus pelajar, mereka memiliki keterampilan khusus di medan perang. Keahlian-keahlian khusus yang mereka miliki adalah, membuat jebakan, merakit bahan peledak sekaligus memasang dan meledakkannya.

Mereka juga terampil dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan konstruksi seperti membangun jembatan darurat. Pasukan ini juga mampu memproduksi senjata maupun granat yang bahan-bahannya diambil dari bom-bom Belanda yang gagal meledak.

SMK Bina Cendika
SAKSI PERJUANGAN. SMK Bina Cendika YPK yang berada di depan Stadion Gajayana Malang. Foto: Ist/Restu Respati

B. Sejarah Tentara Genie Pelajar (TGP) Malang

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan banyak pihak, tak terkecuali para pelajar. Baik yang masih sekolah lanjutan tingkat pertama maupun tingkat atas yang baru berusia belasan tahun. Mereka ikut aktif berjuang dan bertempur melawan Sekutu – Belanda. Para pelajar pejuang itu diwadahi dalam berbagai kesatuan.

Karena perlunya tentara untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri maka di Surabaya terbentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat), PRI (Pemuda Republik Indonesia), AMI (Angkatan Muda Indonesia), BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) dan lain sebagainya.

Pada 1 Oktober 1945, 20 orang siswa STN/SMTT mengikuti para guru mereka, di antaranya Hasanudin dan Kaswadi, masuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Tehnik. Selama masa perebutan kekuasaan, pasukan pelajar (BKR Pelajar) aktif menyertai perebutan senjata, antara lain penyerbuan terhadap tangsi Don Bosco dan tempat lain yang memungkinkan pasukan menambah jumlah persenjataannya. Akhirnya mereka bermarkas di bekas Tentara Jepang Don Bosco Jalan Tidar Surabaya.

Selanjutnya para pelajar SMP, ST, SMT, SMTT di Surabaya akhirnya membentuk pasukan pelajar yang mereka sebut Staf atau kelompok. Pada masa itu di Surabaya ada 4 kelompok kesatuan pelajar antara lain Staf I kelompok pelajar SMT Darmo yang dipimpin Isman, Staf II kelompok pelajar SMTT dan ST pimpinan Sunarto, Staf III kelompok SMP Praban dan SMP Ketabang, dan Staf IV kelompok pelajar lainnya yang bermarkas di Heren Straat.

Pada tanggal 25 Oktober 1945 kelompok-kelompok pelajar tersebut oleh Sungkono dimasukkan dalam BKR (Badan Keamanan Rakyat) dengan nama BKR Pelajar. Mereka sempat turut berjuang di pertempuran Surabaya pada tanggal 28 Oktober dan 10 Nopember 1945.

Pada 14 Oktober 1946, dalam suasana gencatan senjata dan status quo, dirintis upaya perundingan RI-Belanda yang menghasilkan perjanjian Linggarjati. Selama itu diberlakukan suatu keadaan gencatan senjata dari kedua belah pihak.

Dengan tidak adanya lagi tugas-tugas operasional pembelaan negara, maka para pelajar pejuang bersenjata menarik diri dari medan pertempuran untuk belajar kembali menekuni pendidikan di sekolah. Disusul kemudian ada pengumuman dari sekolah bahwa STN/SMTT akan dibuka kembali di Lawang, Malang, Blitar dan Kediri. Khususnya bagi murid kelas III STN/SMTT akan dibuka di Lawang dan diasramakan di Jalan Sumberwaras Lawang.

Di Lawang kurang lebih 5 bulan ada kenaikan kelas, kemudian sekolah dipindah lagi ke Kota Malang yang untuk sementara waktu masih menumpang di gedung Katolik Corjesu, Celaket, Kota Malang.

Tidak berapa lama, sekolah dipindah lagi ke SMP Kristen di Jalan Semeru No. 42 Malang. Di sinilah tempat kelahiran kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah pimpinan Soenarto tepatnya pada tanggal 2 Februari 1947. Semboyan TGP saat itu “Berjuang Sambil Belajar”.

Ide mendirikan TGP oleh sekelompok pelajar pejuang SMTT sebenarnya sudah ada sejak di asrama Sumberwaras Lawang sampai di mess Jalan Ringgit Malang. Peristiwa ini sekaligus juga dimanfaatkan untuk pendaftaran bagi yang berminat menjadi anggota pasukan pelajar pejuang yang baru, Tentara Genie Pelajar. Pembentukan satuan baru ini diawali dengan acara pendidikan dan latihan, baik dalam dasar-dasar militer sekaligus juga spesialisasi tugas genie. Pelatihan itu diselenggarakan selama dua minggu di Kesatrian, Rampal, Kota Malang.

Prasasti TGP
61 PAHLAWAN GUGUR. Prasasti TGP. Foto: Ist/Restu Respati

Bersamaan dengan itu juga dilakukan aksi anjuran untuk membentuk satuan TGP dan bergabung dengan TGP Malang. Sedangkan latihan dasar kemiliteran dilatih oleh para pelatih dari Sekolah Kadet Angkatan Laut Malang. Batalyon TGP terbagi menjadi 4 Kompi yaitu Kompi I berada di Malang, Blitar dan Pare (Kediri), Kompi II berada di Madiun, Bojonegoro dan Pati, Kompi III berada di Solo, dan Kompi IV berada di Yogyakarta.

Belum genap berusia enam bulan, yaitu pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan operasinya yang dikenal dengan Agresi Militer I. Malam hari pukul 19.00 semua perwira staf dan komandan kesatuan Divisi VII berkumpul di Markas Divisi, termasuk Komandan TGP. Pada malam itu dikeluarkan perintah harian Panglima, bahwa pasukan baru meninggalkan Kota Malang setelah kota tersebut menjadi lautan api.

Restu Respati

Dengan bekal instruksi tersebut, maka malam itu juga di markas TGP Jalan Ringgit 5 diadakan rapat staf dan komandan seksi.

Rapat itu untuk menentukan langkah-langkah yang harus diambil yaitu mengirimkan beberapa regu untuk mengadakan aksi-aksi penghambatan sepanjang jalan Pandaan dan Lawang. Beberapa regu ditugaskan untuk membumihangus Kota Malang.

Selain itu dilakukan persiapan pemindahan markas TGP ke sebelah barat Kali Kepanjen dan sisanya tetap berada di pos komando yang pemindahannya disesuaikan dengan situasi pertempuran.

Setelah Konferensi Meja Bundar 2 November 1949, pada tanggal 7 Desember 1949 Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia yang menandakan berakhirnya konflik bersenjata antara Indonesia-Belanda. Dua puluh hari kemudian yaitu tanggal 27 Desember 1949, digelar apel di Madiun untuk pasukan TGP. Dalam kesempatan yang sama diadakan juga acara pemakaman kembali pejuang-pejuang TGP yang gugur.

Sesungguhnya masih banyak catatan aksi-aksi perjuangan yang dilakukan oleh TGP, dan sangat panjang untuk dituliskan semua.

Artikel merupakan sumbangan tulisan dari Restu Respati

* Penulis merupakan Pemerhati Sejarah dan Cagar Budaya

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *