SIARINDOMEDIA – Pada episode kelima Clash of Champion (COC) Season 2 episode kelima, peserta yang lolos ke tantangan Multiverse Combat kembali dihadapkan dengan soal-soal yang menguji numeric logic.
Salah satunya adalah tantangan cryptarithm, jenis soal yang membuat banyak peserta harus berpikir ekstra keras karena kerumitannya meningkat dibandingkan Season 1.
Tahun ini, cryptarithm hadir dalam format lebih kompleks.
Jika pada Season 1 hanya terdiri dari satu operasi Matematika, maka di Season 2, peserta harus menyelesaikan puzzle dengan tiga operasi sekaligus dalam satu soal.
Tantangan ini pun menjadi tantangan dalam ketajaman analisis dan konsentrasi peserta.

Lalu, apa itu cryptarithm?
Secara sederhana, cryptarithm adalah teka-teki aritmatika di mana angka-angka dalam suatu operasi Matematika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian, diganti dengan simbol atau huruf.
Tugas pemain adalah mencari angka yang mewakili setiap huruf hingga operasi tersebut menjadi benar.
Konsep ini bukan hal baru. Istilah cryptarithm pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1864. Meski ada juga yang meyakini akar permainannya berasal dari Tiongkok.
Popularitasnya melonjak setelah Simon Vatriquant mempublikasikan berbagai soal cryptarithm dalam jurnal matematika asal Belgia, Sphinx, pada tahun 1931.
Ada beberapa jenis cryptarithm yang dikenal dalam dunia puzzle:
- Alphametic, jenis paling populer, seperti dalam teka-teki legendaris: SEND + MORE = MONEY. Dalam aturan ini, setiap huruf harus mewakili angka dan tidak boleh ada angka yang diwakili oleh lebih dari satu huruf.
- Digimatic, berbeda karena huruf-huruf tidak harus membentuk kata bermakna, contohnya: A1B + C4D = EFGH.
- Skeleton Division, menggunakan operasi pembagian dengan angka-angka yang disamarkan menggunakan huruf. Bisa seluruh angka diganti huruf, atau sebagian saja.
- Futoshiki, berasal dari Jepang yang artinya “tidak sama”. Menggunakan grid seperti Sudoku, pemain harus mengisi angka sesuai petunjuk ketidaksamaan (>, <) di antara kotak-kotak.
Di tengah tekanan waktu dan ketatnya persaingan, peserta harus berpacu tak hanya dengan angka, tapi juga dengan ketenangan pikiran.
Setiap huruf yang harus diubah menjadi angka, setiap operasi yang harus masuk akal, menjadi bagian dari teka-teki besar yang menguji lebih dari sekadar kemampuan matematika.














