SARAN BERBISNIS UNTUK PEMUDA DARI PENGUSAHA KERAJINAN KAYU ASAL KOTA BATU

SIARINDOMEDIA.COM – Perjalanan cukup panjang dan terjal yang ditapaki seorang pria asal Dadaprejo, Kota Batu.

Hampir satu dekade Lukman Hakim merintis bisnis kerajinan kayu di daerah Kota Batu. Semula, dia tidak membayangkan akan bisa sejauh ini. Lelaki tiga anak tersebut mengatakan bahwa dia hanya kepepet menjalani usaha ini.

“Jadi usaha ini (kerajinan kayu) adalah usaha kesekian kalinya setelah beberapa kali usaha jatuh bangun,” kata Lukman kepada Siarindo Media saat dijumpai di rumahnya, Selasa (5/12/2023).

“Jadi usaha yang sekarang ini adalah usaha kerajinan kayu, Mas,” sambungnya.

Lebih lanjut, Owner El Art Gallery tersebut mengurai bahwa bisnis tersebut menggunakan konsep kemitraan. Produk yang disuguhkan adalah produk yang memiliki bahan dari kayu, seperti telenan, alat pijat kayu hingga sutil.

Perjuangan tersebut, imbuh Lukman, tidak serta merta didapat dengan mudah. Pria asli Batu tersebut pernah berada di fase hidup yang sulit.

Tepatnya pada rentang tahun 2011-2012, Lukman memutuskan resign dari tempat kerjanya untuk bekerja serabutan. Alasannya sederhana, karena dia tidak ingin meninggalkan anaknya saat malam hari yang mana jam-jam tersebut menuntutnya untuk tetap berada di pabrik.

“Saya waktu itu (2011) mengundurkan diri dari pabrik. Soalnya kalau malam itu harus meninggalkan anak dan itu rasanya berat. Anak masih kecil,” kata Lukman.

“Terus 2011-2012 itu saya cari kerja apa saja. Sampai saat itu saya ngurir sambil kuliah,” sambungnya.

Kerajinan kayu dari telenan
JATUH BANGUN RINTIS BISNIS. Salah satu produk talenan dari kayu milik Lukman Hakim. Foto: Ist/Lukman

Kemudian perjalanan Lukman tersebut berada pada puncaknya. Tepatnya pada Desember tahun 2015 Lukman bertemu seorang pengepul tas bernama Pak Sofyan.

Dari situ, dia meminjam produk milik Sofyan untuk difoto kemudia dijajakan di market place.

“Awalnya saya agak pesimis karena di sepanjang perjalanan Joso banyak orang jualan telenan, mohon maaf, sampai lumutan tapi ga laku-laku,” terang Lukman.

“Ternyata 2015 itu kuwenceng banget berjalannya (laku). Menanjak,” imbuhnya.

Dari perjalanan tersebut, Lukman menyarankan kepada pemuda agar bisa terus berkreasi dalam menciptakan karya-karya, dalam hal ini untuk berbisnis.

“Kita tetap harus kreatif. Artinya kreatif itu kita nggak boleh tetap stuck pada produk yang kita jual,” papar pria paruh baya ini.

“Kita harus terus mengeluarkan produk baru,” tambahnya.

Rumah boneka dari kayu
TERUS BERINOVASI. Salah satu hiasan rumah dari bahan kayu produk Lukman. Foto: Ist/Lukman

Sementara itu, Masrurotul Hikmah, sang istri juga memberi saran agar para pemuda yang berminat dalam dunia wirausaha dapat memaksimalkan kecanggihan media sosial.

“Kalau misalnya sekarang hobinya (main) TikTok, lha berarti harus bisa menjual di TikTok,” ucap Hikmah.

“Dan ketika menjual barang, kita harus melihat di lingkungan sekitar kita. Sambil diniati membantu lingkungan di sekitar,” tutup dosen UIN Malang tersebut.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *