SIARINDOMEDIA.COM – Salah seorang guru di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh Malang membagikan cara jitu agar anak menyukai pelajaran matematika. Sang guru memang ahli berhitung. Bahkan dia dipercaya oleh Kemendikbud masuk dalam tim membuat buku ajar matematika jenjang SMP sampai SMA.
Ibnu Taufik, Sekretaris Yayasan Bahrul Maghfiroh yang juga pengajar di ponpes ini, menjelaskan bahwa rata-rata pelajar saat ini tidak menyukai pelajaran matematika. Salah faktornya, menurutnya cara penyampaian para guru yang dianggapnya kurang tepat.
“Era Merdeka Belajar semestinya guru-guru mengajarkan ilmu hitung ini tidak berputar pada angka saja,” ungkap Taufik Jum’at (29/9/2023).
Tapi semestinya cara mengajarkan matematika berupa penerapan di kehidupan sehari-hari. Menurut Taufik, sebenarnya banyak sekali aktifitas dalam keseharian yang menggunakan ilmu hitung.
“Jadi mangajar Matematika tidak harus dimulai dari rumus dan angka. Anak akan jenuh jika terus menerus dicekoki dengan angka,” ucap Taufik.
Namun dia mengarahkan peserta didik dapat dicoba diberi tantangan, yang itu sebenarnya pelajaran matematika. Semisal guru meminta bantuan siswa untuk mengukur luas ruang kelas. Mungkin siswa ada yang menghitung dari jumlah asbes atau ubin lantai.
Nantinya, guru dapat menggaris bawahi bahwa menghitung luas dapat dengan cara mengalikan panjang dengan lebar suatu bangunan.
Taufik menandaskan, di era Merdeka Belajar, kurikulum Merdeka ini, guru dituntut untuk kreatif. Hingga harus dapat mematimatikakan berbagai yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Hingga pembelajaran dapat bermakna bagi siswa, dengan begitu mereka akan senang dan tertarik.
Taufik kemudian menjabarkan akan pentingnya menyukai ilmu hitung. Dimana orang berdagang dipastikan membutuhkan matematika, orang yang mempredikasi atau menganalisa sesuatu juga membutuhkan matematika.
Maka sebisa mungkin semenjak SMP anak sudah dilatih menyukai perhitungan. Itu bisa dimulai dari hal yang menyenangkan. Semisal siswa diminta memperkirakan biaya jika berlibur ke Bali. Maka mereka akan menghitung biaya transportasi penginapan, dan berbagai keperluan lainnya.

Disinggung mengenai metode pengajaran matematika di Ponpes Bahrul Maghfiroh. Sekertaris yayasan ini mengakui di Pondok ini agak sedikit berbeda. Dimana di pondok ini mayoritas santrinya laki-laki, maka cara pengajaran sebisa mungkin dikemas secara berkelompok.
Selain itu para santri diupayakan banyak bergerak. Serta pembelajaran dikemas secara menyenangkan. Hingga mereka semangat dan tidak tertidur di kelas.
Termasuk juga tatanan bangku di kelas Ponpes Bahrul Maghfiroh duduknya tidak harus konvensional menghadap ke depan semua. Namun bisa melingkar, ataupun berhadapan, lesehan dan lain sebagainya.
“Kami memberikan kebebasan mengekspresikan kegiatan belajar, tetapi tetap terkontrol dan monitoring dari guru,” tandas Taufik.
Taufik sendiri merupakan anggota Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementrian Pendidikan. Dia termasuk tim penyusun buku ajar mata pelajaran Matematika. Bukunya saat ini telah menjadi buku ajar yang digunakan di seluruh Indonesia.
Buku matematika karyanya digunakan mulai kelas tujuh SMP hingga kelas dua SMA. Terdapat delapan buku yang telah sukses dibuat sebagai bahan ajar di seluruh Indonesia.













