SIARINDOMEDIA.COM – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pada pekan kemarin. FGD kali ini mengangkat tema “Curiculum and Research of Entrepreneurial University in the Global Context”, bersama Wako University Japan sebagai Kampus Entrepreneurial University.
Dalam opening speech FGD, Dekan FEB Unisma Associated Prof Nur Diana SE MSi menyampaikan, saat ini kampus ini menghadapi tahapan Entrepreneurial University dalam Milestone-nya. Fakultas ini merespon dengan berbagai terobosan program unggulan. Kerja sama dengan Wako University Japan, diimplementasikan guna mendukung tridharma perguruan tinggi.
“Alhamdulillah, FEB Unisma telah meraih akreditasi unggul dari LAMEMBA. Serta prodi Akuntansi dan Manajemen telah mendapatkan akreditasi internasional FIBAA dari Jerman,” ungkap Assoc Prof Diana.
Saat ini Unisma sudah mencapai taraf akreditasi unggul, artinya sudah mencapai tahapan internasional. Sehingga semua aktivitas Tri Dharma pendidikannya harus menggunakan nuansa global, terutama pendidikan. Unisma milestone perguruan tinggi Nahdlatul Ulama itu menuju World Class University.
Menurut Nur Diana, kurikulum merupakan nyawa bagi pendidikan yang harus dievaluasi secara inovatif, dinamis, dan berkala sesuai dengan perkembangan zaman dan IPTEKS, kompetensi yang diperlukan masyarakat dan pengguna lulusan. Selain itu perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan revolusi industri 4.0, yang menuntut manusia untuk harus beradaptasi dengan kemampuan literasi baru.
Langkah itu dalam rangka meningkatkan output dan outcome lulusan FEB Unisma yang berkualitas tinggi dan berdaya saing internasional. Maka Kurikulum merupakan jantung dalam menciptakan SDM Unggul.
Dalam FGD ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut tantangan dihadapi lulusan di masa depan, kompetensi lulusan PT dari sudut pandang industri; kemampuan/skills yang dibutuhkan oleh industri, baik itu technical ataupun soft skills dari best practice yang sudah dijalankan oleh Wako University Japan sebagai Kampus Entrepreneurial University.
FEB Unisma visi dan misinya menciptakan Entrepreneur yang mampu mendongkrak perekonomian Indonesia maupun Global. Hal ini diwujudkan melalui kurikulum Entrepreneurship yang diberikan porsi lebih.
Selain itu, lanjut Assoc Prof Diana, isu terkini masih menjadi ganjalan dan PR besar bagi Fakultasnya di antaranya jumlah pengusaha di Indonesia masih di bawah 4%.
Untuk itulah perlu berbagai terobosan dan memberikan mindset entrepreneur yang lebih kuat kepada mahasiswa agar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi Milestone Entrepreneur University.
Untuk itulah dengan melihat Best Practice implementasi Entrepreneur University dan bagaimana implementasinya dalam kurikulum sangat relevan sekali untuk dijadkan pijakan dalam membuat terobosan agar Mindset Entrepreneur terbangun di kampus Unisma.

Assoc Prof Diana menilai, Unisma sebenarnya telah memiliki kelebihan karena telah berkomitmen menjadi Entreprenurial University. Dengan mencanangkan dalam milestone universitas pada 2023 – 2027 sehingga perlu memikirkan investor global yang potensial saat bertekad menjadi Entreprenurial University.
Menjadi Entrepreneur University mahasiswa harus memiliki transdiciplinary thinking karena saat sudah bekerja mahasiswa tidak hanya mengandalkan ilmu dari jurusan yang diambil. Melainkan juga skill lain seperti kemampuan bahasa, komunikasi, bisnis dan lain-lain.
Lebih lanjut Dekan yang dikenal inovatif ini menekankan bahwa dalam pembelajaran, mahasiswa harus memiliki mentor dalam membuat sebuah project bisnis misal membuat start up, Business Model canvas dan project-project lain.
Beberapa catatan penting dari hasil FGD ini. Yakni pentingnya lulusan yang mempunyai kemampuan adaptasi dalam lingkungan yang dinamis. Juga pentingnya membaca tren, melakukan forecast lima tahun ke depan serta digitalisasi perlu diperhatikan dalam merancang kurikulum. Serta pentingnya memahami platform sistem serta masukan masukan lainnya yang sangat bermanfaat lainnya.
Sementara itu Prof Bambang RudiyantonMSc PhD selaku Dean of Faculty of Economics & Business Wako University Japan juga menyampaikan beberapa hal.
Menurutnya dalam mendevelop entrepreneurship hendaknya melihat dari dari konteks Global dengan menengok good practiced dari berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia.
“Hal ini untuk menjadi pijakan atau benchmark implementasi dan kesuksesan lulusan perguruan tinggi menjadi pengusaha di level global,” tandasnya.

Dengan mengambil beberapa contoh kesuksesan dan budaya continuoes improvement perusahaan di Jepang yang menjadi tempat praktik atau magang bagi mahasiswa sangat berperan dalam menciptakan entrepreneur handal.
Menurutnya dunia pendidikan tinggi harus senantiasa bermitra dengan stakeholder agar menciptakn sumberdaya manusia kompeten. Sebagai contoh dari pemerintah jepang telah mengembangkan kewirausahaan dengan merumuskan skema untuk mendukung usaha rintisan yang diberi nama Undang-Undang peningkatan daya saing industri pada tahun 2014.
Hal ini menjadikan Pemerintah Jepang, dunia industri dan pendidikan tinggi bersinergi memberikan dukungan bagi usaha rintisan dengan bertujuan untuk mempromosikan bisnis baru di kawasan Jepang.













