SIARINDOMEDIA.COM – Ratusan mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) yang mengikuti mata kuliah wawasan kebangsaan melaksanakan refleksi kebangsaan dengan menggelar Study Tour Kebangsaan ke Museum Mpu Tantular serta juga ziarah ke makam Gus Dur.
Hal ini dijelaskan oleh dosen pendamping sekaligus Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan Unitri, Agustinus Ghunu SE MMA MAP.
Menurutnya, Study Tour ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat persaudaraan sesama anak bangsa. Tema kegiatan ini ‘Bersatu dalam Keberagaman’ yang subtemanya melestarikan semangat kebhinnekaan untuk Indonesia satu.
“Kami ingin merefleksikan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dan Kebhinnekaan,” ungkap Agustinus, Selasa (18/7/2023) saat ditemui di ruang kerjanya.
Kepala Pusat Studi Kebangsaan ini juga menyampaikan, jika nilai-nilai tersebut yang akan menjadi rujukan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dengan kesadaran akan cinta tanah air.
Lewat Study Tour ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, kebangsaan dan kemanusiaan sebagaimana seharusnya sebagai warga negara yang baik yang menjunjung tinggi Pancasila, Persatuan dan Kesatuan NKRI.
Dengan mengunjungi Museum Mpu Tantular, ke 140 mahasiswa Unitri ini dapat mempraktekkan sikap dan tindakan sesuai nilai-nilai Pancasila. Dengan bukti kegiatan yang beretika dan bergotong royong, serta menghargai dan menerima keberagaman untuk Indonesia satu.

Selain mengunjungi UPT Museum Mpu Tantular di Sidoarjo, para mahasiswa ini juga berziarah ke Makam Bapak Pluralisme Indonesia serta Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Jombang.
Gus Dur merupakan Bapak Pluralisme Indonesia, yang menerima keberagaman atau kebhinnekaan. Oleh karena itu mahasiswa Unitri mengunjungi makamnya, agar mereka termotivasi dan berwawasan luas dan meyakini berbeda itu indah.
Agustinus menekankan, jika berbeda itu anugerah yang mempersatukan. Berbeda bukan untuk saling membenci, bermusuhan satu dengan yang lain. Tetapi berbeda untuk saling menyayangi antar anak bangsa, saling membutuhkan dan saling melengkapi.
“Besi menajamkan besi, sesama mencerdaskan sesama. Intinya budaya saling dalam makna positif,,” tuturnya.
Uniknya dalam Study Tour kali ini, ke 140 mahasiswa Unitri tersebut dari latar belakang suku yang berbeda-beda. Mereka yang berkuliah di kampus ini berasal dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai Rote. Begitu pula dengan kepercayaan dan keyakinan mereka yang beragam.













