BUKA PRODI BARU, UNIVERSITAS MA CHUNG KEMBANGKAN OBAT HERBAL

PRODI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER, MENUJU KEMANDIRIAN FARMASI BERBASIS KEANEKARAGAMAN HAYATI

SIARINDOMEDIA.COM – Salah satu agenda penting dalam Dies Natalis ke-17 Universitas Ma Chung (UMC) adalah orasi ilmiah yang disampaikan Dr. apt. Rollando, M.Farm, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan. Orasi ilmIah tersebut mengangkat tema ‘Tantangan dan Peluang Pengembangan Obat Herbal di Indonesia: Menuju Kemandirian Farmasi Berbasis Keanekaragaman Hayati’.

Dr. Rollando mengawali orasi ilmiahnya dengan menyoroti potensi besar Indonesia dalam pengembangan obat herbal. Berdasarkan data, Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan, dengan lebih dari 7.000 di antaranya telah diidentifikasi memiliki khasiat obat.

Namun, pengembangan obat herbal di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal pembuktian ilmiah dan integrasi ke dalam sistem kesehatan formal.

“Pentingnya penelitian, standardisasi, dan kolaborasi untuk mengembangkan obat herbal yang efektif dan aman, serta mendukung kemandirian farmasi nasional,” ungkap Dr. Rollando.

Link Banner

Dr. Rollando menambahkan, meskipun obat tradisional sering digunakan masyarakat untuk pengobatan sendiri, para profesional kesehatan di Indonesia masih enggan meresepkannya. Ini berbeda dengan negara-negara seperti China, Korea, dan India yang telah berhasil mengintegrasikan pengobatan tradisional ke dalam sistem pelayanan kesehatan formal mereka.

Alasan utama keengganan tersebut adalah kurangnya bukti ilmiah yang mendukung khasiat dan keamanan obat tradisional bagi manusia.

“Padahal, obat tradisional Indonesia merupakan bagian dari warisan budaya yang berharga, sehingga penting untuk terus menggali, meneliti, dan mengembangkannya agar dapat dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” imbuhnya.

Dalam sejarah perkembangan obat-obatan, terungkap beberapa obat modern sebenarnya diisolasi dari tanaman. Obat-obatan anti-kanker seperti aktinomisin, bleomisin, dan daunorubisin ditemukan berasal dari sumber-sumber alamiah seperti jamur dan bakteri.

Namun, uji klinik masih jarang dilakukan karena biayanya yang besar, meskipun penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas obat herbal sebelum digunakan secara luas.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen pada inovasi dan penelitian, Universitas Ma Chung dapat memiliki peran strategis dalam mengembangkan obat herbal di Indonesia.

“Melalui program penelitian yang terfokus dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kita dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada,” jelas Dr. Rollando.

Mahasiswa UMC di Dies Natalis ke-17
CETAK AHLI FARMASI. Para mahasiswa UMC antusias mendengarkan orasi ilmiah Dr. Rollando. Foto: Muhamad Rizqi

Tema yang diangkat dalam orasi ilmiah Dies Natalis Universitas Ma Chung ke-17 ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam mengembangkan obat herbal di Indonesia.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki dan semangat untuk berinovasi, Universitas Ma Chung memiliki semua yang dibutuhkan untuk mencapai kemandirian farmasi berbasis keanekaragaman hayati.

“Mari kita bersama-sama melangkah ke depan dengan tekad dan semangat baru. Dengan kerjasama dan dedikasi, kita bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan obat herbal dunia, sekaligus mendukung kesehatan masyarakat dan pelestarian alam kita,” ujar Dr. Rollando.

Sebagai bagian dari komitmen ini, Program Studi Farmasi Universitas Ma Chung mengambil langkah penting dengan mengajukan pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Langkah ini bertujuan untuk mencetak tenaga kefarmasian yang siap berkontribusi terhadap tantangan global.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *