GAYENG, DISKUSI HIMAM KONSULAT MALANG SEPUTAR PIALA DUNIA U-20 DI WARKOP JEMBLUNG

SIARINDOMEDIA.COM – Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (Himam) Konsulat Malang menggelar diskusi terkait polemik Piala Dunia U-20 di Warung Kopi Jemblung 1 Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, Sabtu (8/4/2023) sore. Agenda diskusi bertajuk Halaqah Ilmiah dan Buka Bersama.

Ainul Yaqin selaku moderator membuka diskusi pada pukul 16:30 WIB. Ada sekitar 15 audiens yang mengikuti diskusi ini. Mulai dari mahasiswa baru hingga mahasiswa pascasarjana.

Ada tiga permasalahan yang digali dari tema Piala Dunia U-20 ini. Pertama, pro kontra di balik batalnya Indonesia menjadi tuan rumh Piala Dunia U-20. Kedua, apakah pembatalan Indonesia menjadi tuan rumah murni karena gelombang penolakan keikutsertaan Israel? Dan ketiga, bagaimana perspektif agama memandang polemik ini (memperjuangkan kemerdekaan negara lain tapi disuatu sisi mengorbankan impian anak bangsa)?

Izzuddin Rifqi sebagai pemantik diskusi, hanya memaparkan materi selama 15 menit, selebihnya Izzuddin memberikan ruang pada audiens untuk mengutarakan pendapatnya masing-masing terkait tema ini.

Link Banner

“Lebih kuat mana Peraturan Menteri Luar Negeri (Permenlu) daripada peraturan FIFA?” tanya Satria, salah satu anggota Himam Konsulat Malang.

“Saya kira kesepakatan di awal antara Pemerintah dan FIFA terkait Piala Dunia U-20 tidak memasukan unsur kerjasama politik, sehingga yang disepakati adalah peraturan olahraga. Jadi nothing to lose,” jawab pemateri.

Foto bersama Himam Konsulat Malang
FOTO BARENG. Pemateri foto bersama anggota Himam Konsulat Malang setelah sesi diskusi selesai. Foto: Ist/ Hasan

Setelah melakukan diskusi yang cukup menarik, para pengurus Himam Konsulat Malang (HKM) kemudian melanjutkan agenda buka bersama.

Halaqoh Ilmiah adalah agenda rutin pengurus HKM yang bertujuan untuk merespons isu-isu yang sedang hangat di Indonesia. Baik dilihat dari sudut pandang ilmiah dan agama.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *