CHANDRIKA KURNIA SARI, CINTA MATI PADA DUNIA SENI TARI TRADISIONAL

SIARINDOMEDIA.COM – Seni tari tradisional yang ada di Indonesia khususnya Jawa menyimpan beragam filosofi dan makna yang terkandung. Hal inilah yang membuat Chandrika Kurnia Sari menggeluti bidang seni tari tradisional sejak usia 5 tahunan.

Perempuan kelahiran Malang, 15 Februari 2002 ini merasa ada keunikan saat melakonkan diri sebagai penari tradisional.

Ketika reporter Siarindo Media datang ke rumahnya di Jalan Rukun no 133 RT 13 RW 03, Desa Sempalwadak Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, terlihat beberapa piala berjajar rapi, yang berada di atas rak almari kayu bercat hitam.

Suasana rumah yang masih lekat dengan bangunan jaman Belanda ini menambah atmosfir seperti rumah seorang seniwati sejati.

Link Banner

Di kursi kayu berukir dirinya mulai menceritakan awal mula menari di usia Taman Kanak-kanak. Chandrika Kurnia Sari menari tarian tradisional berjudul kancil pada waktu itu.

“Saat masih TK menari Kancil, lalu kelas 5 SD diajari tante menari Gambyong dan Karonsih,” ucap perempuan yang kerap disapa Mimun ini, Selasa (28/3/2023) sore.

Sari juga terus menajamkan intuisinya dalam dunia seni tari dengan ikut serta ke dalam sanggar seni Nestrining Budaya yang berada di Bululawang.

“Selain ikut sanggar, juga masih ikut serta dalam ekstrakurikuler di sekolah waktu itu,” tuturnya.

Menurutnya dunia seni tari sangatlah asyik apalagi jika dirinya mengikuti lomba-lomba dan menerima berbagai tanggapan.

“Ya serunya kalau proses, entah mau lomba ataupun tanggapan, bonusnya ya dapat juara dan uang sangu,” ujarnya seraya tertawa.

Cucuk Lampah
CUCUK LAMPAH. Sari saat menjadi cucuk lampah dalam acara temu manten beberapa waktu lalu. Foto: Dok/Bayu Kusumaleksana

Dirinya juga terlihat aktif di berbagai sanggar seperti sanggar tari topeng Pakisaji dan Cakranatya. Namun kariernya dalam dunia seni tari sempat terhenti ketika dirinya lulus sekolah dan harus melanjutkan ke dunia kerja.

“Sempat berhenti karena kerja, tapi setelah itu resign kerja dan diajak gabung di Sanggar Singobarong oleh teman sesama penari,” terangnya.

Dalam perjalanannya di Sanggar Singobarong, kini dia terlihat beberapa kali menari jenis tarian ‘Jathilan’ dalam kesenian Reog Ponorogo.

Sari juga menceritakan, jika sebelum menari biasanya dirinya melakukan beberapa ritual seperti nyadran di punden untuk berdoa pada Tuhan YME.

“Biasanya nyadran dulu di punden, entah punden sendiri ataupun punden yang ditempati (tempat saat melakukan pementasan),” ujarnya.

Perempuan yang sudah menyabet beberapa juara seperti Lomba Tari Kreasi FLS2N tahun 2019, Juara 3 Lomba tari Remo Komsos Malang Kreatif 2019, dan Juara 1 tari kelompok Team Cakranatya 2020 ini menjelaskan jika dirinya kadang sering menemukan pengalaman mistis saat menari. Sering dirasakan tubuhnya seperti tersengat listrik ataupun seperti teraliri listrik.

“Tapi masih sadar, nggak kesurupan, cuman kadang tiba-tiba menarinya seperti gerak sendiri tanpa disadari,” jelasnya seraya kembali tertawa.

Bahkan dalam setiap gerakan tari terdapat makna makna yang memuat filosofi, seperti lambang untaian doa, lambang makna cinta, lambang makna emosi, semuanya tertuang dalam gerakan.

“Jadi Wiraga, Wirama, Wirasanya harus pas,” ucapnya.

Filosofi tarian tradisional
PENUH FILOSOFI. Tarian tradisional memuat beragam filosofi yang tertuang dalam setiap gerakannya. Foto: Dok/Bayu Kusumaleksana

Wiraga adalah unsur gerak dalam tarian, Wirama adalah unsur irama dalam sebuah tarian, sedangkan Wirasa adalah adanya rasa dalam setiap tarian yang harus diresapi oleh setiap penari.

Sari menuturkan harapannya kepada masyarakat dan Pemerintah, agar jangan pernah sekali-kali melupakan kebudayaan dan kesenian tradisional asli Bangsa Indonesia.

“Di tengah ombak tingginya arus globalisasi dunia, kita harus tetap memegang teguh jati diri bangsa, sebagai bangsa yang berbudaya dan beradat, agar tidak mudah dijadikan kambing hitam bagi bangsa lain,” pungkasnya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *