BERDARAH TIONGHOA, SABDHO SUTEDJO TETAP KONSISTEN DI DUNIA PEDALANGAN

SIARINDOMEDIA.COM – Menjadi seorang dalang sudah pastinya harus menguasai beberapa ilmu ilmu seperti kecakapan, drama, olah gending, dan teknik pedalangan. Sebagai seorang yang dalang berdarah Tionghoa, tak menyurutkan niat Sabdho Sutedjo untuk tetap konsisten dalam berkarya di dunia pedalangan.

Sabdho Sutedjo yang mulai belajar mendalang sejak tahun 1975 ini, mulai aktif mendalang sejak usia 9 tahun.

“Saya dulu belajar di Swargi Ki Narto Sabdo, dan mulai ndalang di usia 9 tahun,” ucapnya, Rabu (1/3/2023).

Sabdho mengenang saat pertama kali mendalang, dirinya bahkan tak mau untuk disindeni oleh sinden yang usianya sudah sepuh. Hal itu karena dirinya beranggapan bahwa ketika seorang sinden masih berusia muda, maka penonton akan jenak untuk melihat wayang.

Link Banner

“Dulu sinden itu masih di posisikan di depan kendang, Ndak seperti sekarang,” kenangnya.

Ketika ditemui reporter siarindomedia.com di lokasi pentasnya di Darmo Surabaya, Selasa (28/8/2023) malam, dia mengatakan jika perkembangan dunia pewayangan sekarang sudah semakin pesat, bahkan kemunculan dalang-dalang muda di Indonesia menjadi barometer pertunjukan.

Menurutnya dengan adanya teknologi informasi dan gaya pakeliran yang ada sekarang ini, para penonton wayang juga semakin kritis dan memiliki pasar pasar dalang sendiri yang menjadi kesukaan penonton. Dalam hal ini sang Dalang juga harus selalu berproses dan berinisiatif dalam mengembangkan pertunjukan pagelaran wayang.

“Wayang harus selalu mengikuti era jaman yang semakin berkembang. Penonton sekarang makin kritis, jadi ajak penonton juga hanyut mengikuti jalan cerita, jadi dalang e juga harus pinter mengikuti arah kemauan yg nonton,” ucap pria kelahiran 27 April 1967 ini.

Sabdho Sutedjo konsisten ndalang
KONSISTEN. Sabdho Sutedjo menekuni dunia pedalangan sejak kecil. Foto: Bayu Kusumaleksana

Soal karirnya dalam dunia pedalangan, pemilik nama Tionghoa Tee Boen Liong ini sudah tak bisa diragukan lagi. Dia bahkan sudah beberapa kali manggung di Jakarta, Semarang, Pekalongan, Malang, Sidoarjo dan bahkan Luar Pulau Jawa.

Sabdho berharap agar pertunjukan wayang tetap lestari dan berkembang tak lekang oleh jaman.

“Ya harapan e untuk generasi muda jangan segan dan malu untuk nonton hiburan wayang kulit, karena dalam wayang kulit bukan hanya sebagai tontonan, tapi juga bisa sebagai falsafah tuntunan kehidupan manusia,” pungkasnya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *